JAKARTA – Belakangan ini, kasus pengabaian dan kekerasan terhadap anak di tempat penitipan anak (TPA) atau daycare menjadi sorotan publik. Untuk mengatasi masalah ini, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) mengklaim telah menyiapkan langkah perbaikan melalui Program Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya).
Program Tamasya untuk Peningkatan Kualitas TPA
Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Kemendukbangga/BKKBN, Nopian Andusti, menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk memberikan pendampingan dan sertifikasi bagi TPA di Indonesia. “Jadi semacam upgrade dari TPA,” ungkapnya saat memberikan keterangan di kantor Kemendukbangga/BKKBN di Jakarta, pada hari Selasa.
Program ini ditujukan untuk TPA yang baru didirikan maupun yang sudah beroperasi. Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa aspek yang akan dikembangkan. “Yang pertama adalah pemantau tubuh kembang anak. Kalau selama ini di daycare, mereka tidak diukur,” lanjut Nopian. Dengan adanya program ini, TPA akan dilengkapi dengan kemampuan untuk memantau perkembangan anak secara terukur, sehingga jika ditemukan hal yang dianggap tidak normal, akan ada layanan rujukan ke puskesmas atau dokter spesialis.
Peningkatan Kapasitas dan Pelatihan Pengasuh
Nopian menambahkan bahwa langkah kedua dalam program ini adalah peningkatan kapasitas bagi pengasuh. Melalui pelatihan yang dilakukan baik secara langsung maupun jarak jauh, pengasuh akan mendapatkan sertifikasi. Saat ini, sekitar lima ribu pengasuh telah dilatih dan mendapatkan sertifikat.
“Kemudian yang ketiga, peningkatan layanan. Kemudian yang keempat, peningkatan kapasitas orang tuanya. Jadi jangan berpikir, kalau anak itu sudah dititipkan di TPA, sudah selesai,” tegasnya.
Sejak diluncurkan pada Mei tahun lalu, program Tamasya telah menjangkau 3.366 TPA yang tersebar di berbagai sektor, termasuk perusahaan swasta, kantor pemerintahan, dan komunitas masyarakat.
Relevansi Program dengan Aspirasi Buruh
Fabiola Tazrina Tazir, Direktur Bina Ketahanan Keluarga, Balita, dan Anak di Kemendukbangga/BKKBN, menjelaskan bahwa program ini sejalan dengan aspirasi buruh yang disampaikan pada peringatan May Day. “Di mana salah satu aspirasi dari buruh pada Mayday itu ingin ada salah satunya daycare. Jadi ini adalah sesuatu yang juga sebenarnya dari tahun yang lalu juga sudah dilakukan oleh Kemendukbangga dengan adanya Tamasya ini,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya program ini dalam konteks bonus demografi yang sedang dialami Indonesia. Salah satu syarat untuk memanfaatkan bonus demografi tersebut adalah dengan meningkatkan partisipasi perempuan dalam angkatan kerja. “Ini (Tamasya) adalah jawaban. Artinya apakah perempuan bisa masuk dalam angkatan kerja termasuk ini dalam hal ini. Jadi daycare itu sangat membantu karena mungkin pada keluarga-keluarga muda dimana support system tidak tersedia,” jelasnya.
Untuk mendukung pelaksanaan program ini, Kemendukbangga/BKKBN juga telah mengembangkan aplikasi Tamasya yang berfungsi sebagai sistem pelaporan dan pencatatan terpadu. “Jadi kita menyusun, sudah jadi ya, aplikasi, aplikasi Tamasya. Jadi di situ, orang tua bisa mendapatkan feedback dari Tamasya itu tentang, kondisi anak. Kemudian juga, kita dari situ, juga bisa mengetahui, setelah diberikan umpan balik, sebenarnya berapa banyak juga orang tua yang memberikan respon,” tutupnya.