Dinamika baru muncul di sepak bola Italia setelah Gabriele Gravina mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC). Pengunduran diri ini terjadi setelah tim nasional Italia gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya berturut-turut. Saat ini, Giancarlo Abete, mantan Presiden FIGC, dan Giovanni Malagò, mantan Presiden CONI, tengah bersaing untuk mengisi posisi tersebut.
Hari ini, Abete dan Malagò melakukan pertemuan dengan Lega Serie B untuk mendalami kebutuhan dan tantangan yang dihadapi klub-klub. Dalam pertemuan ini, mereka juga mempresentasikan visi masing-masing untuk masa depan sepak bola Italia. Paolo Bedin, Presiden Lega Serie B, menyatakan, "Hari ini sangat positif dan bermanfaat. Kami telah menyusun dokumen yang merangkum prioritas kami, dan baik Abete maupun Malagò menjawab banyak pertanyaan dengan jelas. Dalam dua atau tiga hari ke depan, kami akan berdiskusi dengan 20 pemilik klub untuk menentukan dukungan kami."
Dukungan untuk kedua kandidat datang dari berbagai pihak. Lega Serie A, Asosiasi Pelatih, dan Asosiasi Pemain semuanya memberikan dukungan kepada Malagò. Namun, Liga Amatir (LND), yang memiliki suara terbanyak dalam pemilihan, secara tegas mendukung Abete, yang saat ini menjabat sebagai presiden mereka. Meskipun Lega Serie B hanya memiliki enam persen suara dalam pemilihan yang dijadwalkan pada 22 Juni, keputusan mereka tetap berpengaruh dalam dinamika politik sepak bola Italia.
Setelah terpilihnya Presiden FIGC yang baru, baru akan ditentukan siapa yang akan melatih tim nasional Italia selanjutnya. Menariknya, hingga saat ini, Malagò belum secara resmi mengonfirmasi pencalonannya. Keputusan akhir mengenai pencalonannya akan diumumkan setelah pertemuan dengan Lega Pro pada hari Jumat mendatang. Persaingan untuk kursi presiden ini semakin memanas dan menjadi sorotan utama bagi para penggemar sepak bola di Italia.