Update
Hukum & Kriminal

Kekacauan di Wamena: Konflik Suku Menewaskan 13 Orang dan 789 Pengungsi

Konflik antar suku di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, menyebabkan 13 orang tewas dan 789 orang mengungsi. Bentrokan ini melibatkan Suku Pirime dan Suku Kurima, dipicu oleh insiden kece...

Saraswati Indira Alika 18 May 2026 2 pembaca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
Kekacauan di Wamena: Konflik Suku Menewaskan 13 Orang dan 789 Pengungsi
Ilustrasi. Perang suku pecah di Wamena, Papua Pegunungan, menewaskan belasan orang. (Foto: ANTARA FOTO/Marius Wonyewun)

Di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, terjadi bentrokan antar suku yang mengakibatkan 13 orang meninggal dunia dan 19 lainnya mengalami luka-luka. Informasi terbaru mengenai korban disampaikan oleh Kasi Humas Polres Jayawijaya, Ipda Efendi Al Husaini, pada Minggu (17/5).

Korban Luka dan Pengungsi

Dari total 19 orang yang terluka, tiga di antaranya mengalami luka berat. Saat ini, puluhan korban luka masih mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RUSD) Wamena. "Korban luka berat berjumlah tiga orang. Sementara luka ringan berjumlah 16 orang," jelasnya.

Pihak kepolisian juga sedang menghitung jumlah bangunan yang rusak atau dibakar selama peristiwa tersebut. Ratusan warga dilaporkan mengungsi, dengan total mencapai 789 orang, termasuk 298 anak-anak dan 122 lansia. Berdasarkan jenis kelamin, terdapat 315 pria dan 476 wanita di antara para pengungsi.

Penyebab Bentrokan

Bentrok antar suku ini melibatkan Suku Pirime (Lanny) dan Suku Kurima (Woma), yang awalnya terjadi di Distrik Woma pada Kamis (14/5) dan kemudian meluas ke beberapa lokasi di Jayawijaya hingga Jumat (15/5). Dalam konflik ini, kedua belah pihak menggunakan senjata tajam dan panah.

Kapolda Papua, Irjen Patrige R Renwarin, menjelaskan bahwa bentrokan tersebut dipicu oleh kecelakaan lalu lintas yang menewaskan seorang anggota DPRD Lanny Jaya pada 17 Mei 2024. "Konflik berawal dari pertikaian lama yang kembali memanas akibat persoalan denda adat pasca peristiwa kecelakaan lalu lintas yang menewaskan anggota DPR dari Lanny Jaya pada tahun 2024," ungkapnya.

Irjen Patrige belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai denda adat yang dimaksud. Namun, situasi semakin rumit setelah mediasi terkait pembayaran denda adat tidak membuahkan hasil, yang berujung pada aksi saling serang.

Tragedi semakin parah ketika jembatan gantung di Kali UE roboh saat dilintasi oleh massa, mengakibatkan banyak warga hanyut dan hilang.

Artikel Terkait