Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi untuk periode 2019-2024, Nadiem Anwar Makarim, mengungkapkan bahwa ia tidak merasa menyesal telah bergabung dengan pemerintahan, meskipun saat ini tengah menghadapi tuntutan pidana dalam kasus dugaan korupsi terkait Chromebook.
Menurut Nadiem, bekerja untuk mencari uang adalah hal yang bisa dilakukan sepanjang hidup, tetapi kesempatan untuk berkontribusi dalam meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa adalah sebuah peluang yang datang hanya sekali seumur hidup. Ia menyatakan, "Jadi saya tidak mungkin akan menolak jabatan atau amanah itu pada saat ditawarkan. Mau saya gagal pun, risiko gagal, risiko masuk penjara, pasti saya ambil karena masa depan Indonesia itu lebih penting dari segala risiko ini," saat ditemui setelah sidang pembacaan surat tuntutan di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, pada hari Rabu.
Kecewa dengan Tuntutan yang Diterima
Meski Nadiem menunjukkan komitmennya, ia juga mengakui rasa kecewa dan sakit hati yang dirasakannya akibat tuntutan yang diajukan terhadap dirinya, terutama setelah semua pengabdian yang telah ia berikan kepada negara. Ia menegaskan bahwa perasaan patah hati muncul ketika seseorang benar-benar mencintai sesuatu, termasuk cinta terhadap tanah airnya.
Pentingnya Tanggung Jawab Sosial
Nadiem menekankan bahwa meskipun menghadapi risiko hukum, ia tetap berpegang pada tanggung jawabnya untuk memajukan pendidikan dan kebudayaan di Indonesia. Ia percaya bahwa perannya dalam pemerintah sangat krusial untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi bangsa.