Update
Hukum & Kriminal

Ratusan Siswa Surabaya Terkena Keracunan Akibat Pelanggaran Prosedur Gizi

Lebih dari 200 siswa di Surabaya mengalami keracunan setelah mengikuti program Makan Bergizi Gratis, yang disebabkan oleh pelanggaran standar operasional di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi.

Arya Satya Sasmita 14 May 2026 1 pembaca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
Ratusan Siswa Surabaya Terkena Keracunan Akibat Pelanggaran Prosedur Gizi
Ratusan siswa di Surabaya keracunan MBG. (CNN Indonesia/Farid)

Surabaya, CNN Indonesia -- Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkapkan bahwa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tembok Dukuh di Surabaya telah melanggar standar operasional prosedur (SOP) dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang berujung pada keracunan massal lebih dari 200 siswa. Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Surabaya, Kusmayanti, menjelaskan bahwa salah satu pelanggaran tersebut adalah tidak adanya pengawas gizi saat bahan baku makanan tiba di lokasi.

"Memang terjadi kesalahan penerapan SOP. SOP yang ditentukan BGN itu sudah baik, namun di SPPG yang bersangkutan terjadi kesalahan penerapan. Di antaranya, pengawas gizi tidak ada di tempat saat kualitas bahan baku datang," jelas Kusmayanti.

Pertemuan dengan DPRD dan Penjelasan Insiden

Kusmayanti menyampaikan hal tersebut dalam rapat dengar pendapat (hearing) bersama DPRD Kota Surabaya pada Rabu (13/5), yang juga dihadiri oleh Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai. Ia menambahkan bahwa ketidakadaan pengawas gizi membuat pihaknya tidak dapat memastikan kapan kerusakan makanan terjadi, apakah saat distribusi bahan baku atau pada saat pengolahan di dapur. Keadaan ini semakin parah dengan hilangnya sampel makanan yang seharusnya digunakan sebagai barang bukti untuk pemeriksaan laboratorium.

"Harusnya ketika dikeluarkan ada treatment khusus dan dimasukkan ke cooler box, tidak dibiarkan di suhu ruangan. Akibatnya, hanya daging yang masih bisa diambil sampelnya," papar Kusmayanti.

Permohonan Maaf dan Temuan Dinas Kesehatan

Atas insiden tersebut, BGN secara resmi menyampaikan permohonan maaf. Kejadian ini menjadi catatan pertama keracunan dalam program MBG di Surabaya. "Dengan segala kerendahan hati kami memohon maaf. Ini menjadi catatan bagi kami untuk jauh lebih waspada dan lebih hati-hati dalam penerapan SOP," ungkap Kusmayanti.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Billy Daniel Messakh, juga mengungkapkan sejumlah kejanggalan dalam proses pengolahan makanan di dapur SPPG. Berdasarkan investigasi yang dilakukan, Billy menyoroti proses pencairan daging beku yang dilakukan di area yang tidak higienis. "Daging itu dalam keadaan beku, di-defrost (dicairkan) di area yang tidak bersih. Prosesnya itu sekitar dua jam sampai daging layak potong. Selama itu lingkungan lalat cukup banyak," katanya.

Selain itu, Billy juga mengkritik fasilitas dapur yang tidak memenuhi standar kelaikan dan higienitas, seperti alat penjebak serangga yang tidak berfungsi dengan baik dan ketiadaan tirai plastik di pintu masuk dapur. "Pintu masuk dapur itu juga harusnya ada penghalang plastik, itu juga tidak ada. Memudahkan sekali insect untuk keluar masuk," ujarnya.

Saat ini, BGN dan Dinkes Surabaya masih menunggu hasil uji laboratorium untuk mengetahui penyebab pasti dari keracunan tersebut. Sebelumnya, sekitar 200 siswa dan guru dari 12 sekolah di Kelurahan Tembok Dukuh, Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya, diduga mengalami keracunan massal setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Senin (11/5). Dari jumlah tersebut, sebagian besar siswa telah diperbolehkan pulang, sementara tujuh pasien masih menjalani perawatan di RSIA Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Surabaya.

Artikel Terkait