Sunday, 30 August 2026
Peristiwa

Upaya Petugas Mengatasi Kebakaran Hutan di Gunung Semeru

Petugas gabungan sedang berjuang untuk mengendalikan kebakaran hutan yang terjadi di tujuh lokasi di Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur. Kebakaran ini melibatkan berbagai tim dan alat bantu dari udar...

S
Saraswati Indira Alika
29 August 2026 22 pembaca
Foto: ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya
Foto: ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya

Petugas dari berbagai instansi masih berusaha keras untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Gunung Semeru, yang merupakan bagian dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada Sabtu (29/8/2026). Kebakaran ini telah meluas hingga tujuh titik.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, Yudhi Cahyono, menyebutkan bahwa titik api terdeteksi di beberapa lokasi, termasuk Ledok Bedor, Blok Jantur, Blok Ranukembang, Ayak Ayak, Watu Rejeng, Ranu Kumbolo, dan Puncak Trisula.

Strategi Pemadaman Kebakaran

Tim gabungan dari BPBD dan TNBTS sedang melakukan pemadaman di beberapa titik api yang terletak di kawasan hutan Desa Argosari dan Desa Ranupani, Kecamatan Senduro. Untuk memperkuat upaya pemadaman, dua helikopter dari BPBD Jawa Timur telah dikerahkan untuk melakukan water bombing di lokasi-lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Tim BPBD Kabupaten Lumajang juga telah mengirimkan dua unit kendaraan trail ke jalur pendakian Ranu Kumbolo untuk melakukan penyisiran dan memantau pergerakan helikopter PK-DAP yang melakukan water bombing. Helikopter tersebut difokuskan pada kawasan Blok Ayak-Ayak dan Bangunan Cilik di Desa Ranupani.

Kondisi Medan dan Tantangan Pemadaman

Pemadaman melalui udara sempat terhenti pada Jumat (28/8/2026) siang akibat angin kencang, sehingga helikopter PK-DAP kembali ke Abd. Rahman Saleh untuk bersiap. Agus Kusuma Negara, Kepala Seksi PTN Wilayah III TNBTS, menjelaskan bahwa terdapat dua lanskap yang mengalami kebakaran masif, dan kondisi medan menjadi salah satu pertimbangan dalam penggunaan dukungan pemadaman dari udara.

Agus menambahkan, "Yang satu berada di Ayak-Ayak, kedua ada di Bangunan Cilik. Upaya yang dilakukan dengan berkolaborasi dengan bantuan water bombing dari BPBD Jatim." Pemadaman udara menjadi pelengkap bagi upaya di darat, di mana petugas juga melakukan pemadaman manual, termasuk membuat sekat api dan menggunakan peralatan yang ada untuk mengendalikan titik-titik kebakaran yang dapat dijangkau.

Berdasarkan data sementara dari petugas TNBTS, area yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar 160 hektare, dengan vegetasi kering menjadi salah satu jenis tanaman yang terbakar. Penanganan kebakaran ini melibatkan petugas TNBTS, BPBD Lumajang, relawan, masyarakat, serta dukungan dari BPBD Jawa Timur melalui pengerahan helikopter water bombing, sehingga kolaborasi dilakukan agar pemadaman dari udara dan darat dapat berjalan secara terpadu.

Selain berfokus pada pemadaman api, petugas juga perlu memastikan bahwa titik-titik yang telah ditangani tidak kembali menyala, sehingga pemantauan dan penanganan lanjutan menjadi bagian penting dalam proses pengendalian kebakaran.

// Artikel Terkait