Friday, 26 June 2026
Hukum & Kriminal

Temuan Mengejutkan dalam Autopsi ASN yang Ditemukan di Bandara Juanda

Hasil autopsi sementara terhadap jasad seorang ASN yang ditemukan di parkir Bandara Juanda menunjukkan adanya tanda kekerasan dan dugaan kematian akibat asfiksia. Korban, yang bernama RYS, berusia 50...

Z
Zidan Alfarezi
25 June 2026 2 pembaca
Kepolisian menyelidiki temuan mayat perempuan di dalam sebuah mobil Toyota Innova hitam yang terparkir di area Terminal 1 Bandara Juanda. (CNN Indonesia/Farid)
Kepolisian menyelidiki temuan mayat perempuan di dalam sebuah mobil Toyota Innova hitam yang terparkir di area Terminal 1 Bandara Juanda. (CNN Indonesia/Farid)

Surabaya, CNN Indonesia -- Hasil awal autopsi terhadap mayat perempuan yang ditemukan di area parkir Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, menunjukkan adanya beberapa tanda kekerasan. Korban yang diketahui bernama RYS, seorang aparatur sipil negara (ASN) berusia 50 tahun dari Pemerintah Kabupaten Bangkalan, diduga meninggal akibat asfiksia atau mati lemas.

Temuan Luka pada Tubuh Korban

Ketua Tim Humas Rumah Sakit Bhayangkara Pusdik Sabhara Porong, AKBP Ni Made Wiatini, menjelaskan bahwa pemeriksaan luar tubuh korban mengungkapkan adanya luka robek pada cuping telinga kiri yang diduga disebabkan oleh kekerasan dengan benda tumpul. "Terkait pemeriksaan luar terhadap korban ditemukan luka robek pada cuping telinga kiri akibat kekerasan benda tumpul," ungkap Ni Made.

Meski luka tersebut menjadi salah satu temuan penting, Ni Made menekankan bahwa pihaknya hanya dapat menyampaikan fakta medis tanpa bisa memberikan kesimpulan mengenai penyebab luka tersebut. "Masalah kekerasannya, bagaimananya kita tidak bisa menyampaikan karena ya kita menemukan luka robek pada cuping telinga," tambahnya.

Dugaan Kematian Akibat Kekurangan Oksigen

Selain luka fisik, tim dokter forensik juga menemukan sejumlah kelainan yang biasanya terkait dengan kematian akibat kekurangan oksigen. "Ditemukan pelebaran pembuluh darah pada kedua selaput lendir kelopak mata. Yang ketiga, ditemukan kebiruan pada selaput lendir bibir atas maupun bawah. Kelainan ini lazim ditemukan pada mati lemas atau karena asfiksia," jelasnya.

Pemeriksaan bagian dalam tubuh juga memperkuat dugaan tersebut, di mana lidah, epiglotis, dan saluran napas atas menunjukkan perubahan warna yang signifikan. "Pada pemeriksaan dalam pada lidah, epiglotis, dan saluran napas atas tampak berwarna merah kehitaman. Kemudian pada dinding lambung berwarna merah kehitaman. Ditemukan tanda-tanda pembusukan pada seluruh organ tubuh," tuturnya.

Pihak rumah sakit juga telah mengambil sampel untuk pemeriksaan toksikologi guna mengetahui kemungkinan adanya zat-zat tertentu dalam tubuh korban. "Pemeriksaan uji toksikologi pada ginjal kanan dan ginjal kiri serta lambung dan isinya, pada kuku telunjuk kanan dan telunjuk kiri. Sampelnya kita kirim ke Labfor Surabaya," kata Ni Made.

Dalam perkembangan lain, dua spekulasi publik yang beredar sebelumnya berhasil dibantah melalui hasil autopsi ini. Korban dipastikan tidak dalam kondisi hamil, dan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan seksual. "Terkait dugaan perut yang membesar, setelah diadakan pemeriksaan dalam ternyata korban dinyatakan tidak hamil," ungkap Ni Made. "Kemudian ada pemeriksaan pada swab vagina menunjukkan hasil tidak ditemukan sperma," tambahnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, diperkirakan korban telah meninggal dunia dalam rentang waktu yang cukup lama sebelum jasadnya ditemukan. "Untuk meninggalnya diperkirakan sudah lebih dari 2 kali 24 jam. Dua atau tiga hari," ujarnya.

Hasil pemeriksaan lengkap masih menunggu uji laboratorium forensik. Seluruh sampel yang diambil kini dalam proses pengiriman ke Laboratorium Forensik Polda Jawa Timur. "Sampel sudah kita ambil, nanti kita kirimkan ke Labfor, ya, Laboratorium Forensik di Polda Jatim. Untuk hasilnya nanti menunggu kalau sudah selesai dari Labfor. Kemungkinan kurang lebih mungkin 1 mingguan. Kalau perkiraan kami, 1 minggu," tutupnya.

// Artikel Terkait