JAKARTA - Pesawat tidak selalu dapat terbang kembali segera setelah kerusakan terdeteksi dan teknisi menyelesaikan pemeriksaan. Jika komponen yang diperlukan tidak tersedia, proses perbaikan dapat mengalami penundaan. Akibatnya, pesawat harus tetap berada di darat hingga semua persyaratan teknis untuk kembali beroperasi terpenuhi. Situasi ini merupakan salah satu tantangan besar dalam sektor penerbangan, terutama ketika permintaan perawatan meningkat, sementara pengadaan komponen memerlukan waktu yang tidak sedikit.
Permasalahan ini tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan suku cadang, tetapi juga meliputi kesesuaian komponen dengan jenis pesawat yang bersangkutan, ketersediaan stok, serta proses distribusi dan pemeriksaan yang harus dilalui. Dalam dunia penerbangan, istilah Aircraft-on-Ground (AOG) digunakan untuk menggambarkan keadaan di mana pesawat tidak dapat beroperasi karena masalah teknis yang memerlukan penanganan segera. Ketersediaan komponen menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi lamanya pesawat terpaksa berada di darat.
Tantangan Rantai Pasok dan Kebutuhan Suku Cadang
Laporan dari US Government Accountability Office (GAO) pada tahun 2024 mengenai industri penerbangan komersial mengidentifikasi tantangan dalam rantai pasok yang dihadapi oleh produsen dan pemasok. Kesulitan dalam memenuhi permintaan komponen menjadi salah satu masalah yang mempengaruhi kemampuan industri untuk memenuhi kebutuhan pesawat. Hal ini mendorong maskapai untuk merencanakan kebutuhan suku cadang jauh sebelum komponen tersebut diperlukan. Perencanaan perawatan, pengelolaan inventaris, serta distribusi material menjadi aspek penting untuk mengurangi risiko keterlambatan dalam perbaikan.
Perlu dicatat bahwa tidak semua komponen dapat dengan mudah diganti dengan barang yang tampak serupa. Suku cadang harus memenuhi spesifikasi teknis dan ketentuan kelaikan yang berlaku sebelum dipasang pada pesawat. Di tengah tingginya permintaan komponen untuk perawatan armada, industri penerbangan juga mulai memanfaatkan material bekas yang masih memenuhi syarat untuk digunakan kembali, yang dikenal sebagai Used Serviceable Material (USM).
Pemanfaatan Material Bekas dan Kerja Sama Strategis
Penggunaan USM dapat menjadi alternatif dalam pengelolaan kebutuhan material, namun komponen bekas tidak selalu dapat digunakan secara langsung. Kelayakan teknis, dokumentasi, dan persyaratan yang berlaku tetap harus dipenuhi. Selain itu, layanan perbaikan dan pertukaran komponen juga dapat membantu maskapai dalam mengelola persediaan dan kebutuhan perawatan. Pendekatan ini dapat mengurangi ketergantungan pada pengadaan komponen baru, asalkan komponen pengganti memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
Salah satu contoh tantangan dalam pengelolaan material ini terlihat pada kerja sama antara maskapai Vietjet dari Vietnam dan Satair, yang merupakan bagian dari Airbus Services. Pada 22 Oktober 2026, kedua perusahaan menandatangani nota kesepahaman di Vietnam–Denmark Business Forum yang diadakan di Kopenhagen, Denmark. Kerja sama ini bertujuan untuk memperkuat penanganan AOG, termasuk penempatan stok komponen di kawasan regional serta koordinasi logistik darurat.
Kerja sama ini tidak hanya terbatas pada ketersediaan material. Vietjet dan Satair juga berencana untuk mengevaluasi penggunaan analisis data dalam memperkirakan kebutuhan komponen, optimalisasi inventaris, layanan perbaikan, serta dukungan logistik untuk pengembangan fasilitas operasional Vietjet di Bandara Internasional Long Thanh. CEO Vietjet, Nguyen Thanh Son, menyatakan bahwa pengelolaan rantai pasok yang efisien sangat penting untuk memenuhi kebutuhan perawatan pesawat dan mendukung perkembangan operasional maskapai.
Dia menambahkan, “Rantai pasok yang proaktif dan efisien merupakan fondasi penting bagi pengembangan armada, perluasan jaringan internasional, serta peningkatan layanan penumpang Vietjet secara berkelanjutan.” Kerja sama dengan Satair diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional dan perawatan pesawat, serta mempersiapkan infrastruktur strategis, termasuk Bandara Internasional Long Thanh, sambil memperkuat kapasitas teknis tenaga kerja lokal di Vietnam.
Dari perspektif Satair, CEO Richard Stoddart menyebutkan bahwa kesepakatan ini melanjutkan program Integrated Material Services (IMS) yang telah mendukung armada Airbus Vietjet. “Dengan memperkuat fondasi program Integrated Material Services yang telah berjalan, kami berharap dapat mendukung pertumbuhan armada Vietjet sekaligus berkolaborasi dalam mengembangkan solusi rantai pasok yang terukur, berkelanjutan, dan berbasis data untuk mendukung ambisi pertumbuhan jangka panjang Vietjet,” ujarnya.
Kedua perusahaan juga berencana membentuk Kelompok Kerja Bersama untuk mengevaluasi enam bidang kolaborasi, termasuk pengelolaan material, dukungan logistik di Long Thanh, pemanfaatan komponen yang masih layak digunakan, integrasi digital, penanganan AOG, serta pelatihan dan pengembangan tenaga profesional. Kesepakatan ini menjadi kerangka untuk mengevaluasi dan mengembangkan kerja sama lebih lanjut, meskipun belum ada data yang menunjukkan dampak langsung terhadap jumlah pesawat yang tertahan di darat atau ketepatan waktu penerbangan Vietjet.
Bagi penumpang, ketersediaan suku cadang mungkin tidak terlihat saat memesan tiket. Namun, di balik operasional penerbangan, pengelolaan komponen dan perawatan sesuai standar menjadi aspek penting untuk memastikan pesawat siap terbang dan memenuhi persyaratan keselamatan sebelum kembali mengudara.