Sunday, 11 October 2026
Peristiwa

Semangat Generasi Muda dalam Membantu Korban Kebakaran Hutan di Kalimantan Barat

Generasi muda menunjukkan kepedulian yang tinggi terhadap korban kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat melalui aksi kemanusiaan yang dipimpin oleh Desabumi.

A
Agung Maulana
10 October 2026 18 pembaca
Foto: dok Desabumi
Foto: dok Desabumi

Kepedulian terhadap sesama tidak harus bergantung pada status sosial atau sumber daya yang besar. Hal ini ditunjukkan oleh Gamma A. Thohir, Pendiri Desabumi, yang telah aktif dalam gerakan sosial sejak usia 15 tahun. Menurutnya, membantu orang lain adalah nilai yang harus ditanamkan sejak dini dan diwujudkan melalui tindakan nyata. Baru-baru ini, semangat tersebut terwujud dalam aksi kemanusiaan yang dilakukan Desabumi bersama Society of Renewable Energy (SRE) Indonesia dan para relawan, dengan mengumpulkan bantuan senilai Rp100 juta untuk masyarakat yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat.

Pelepasan Relawan Secara Hybrid

Pada tanggal 9 Oktober 2026, acara pelepasan relawan dilaksanakan secara hybrid, menghubungkan peserta di Jakarta dengan relawan, mahasiswa, petugas pemadam kebakaran, serta masyarakat yang terdampak di Kalimantan Barat melalui Zoom. Suasana hangat dan akrab terasa sepanjang kegiatan, meskipun jarak memisahkan. Gamma menyapa para relawan, menanyakan kesiapan mereka untuk berangkat, dan mendengarkan pengalaman dari petugas pemadam kebakaran serta masyarakat yang merasakan dampak langsung dari karhutla. Dari interaksi tersebut, terlihat semangat kebersamaan dan komitmen semua pihak untuk memastikan bantuan dapat menjangkau mereka yang membutuhkan.

Tantangan dalam Penanganan Karhutla

Dalam dialog dengan petugas pemadam kebakaran, terungkap bahwa salah satu tantangan utama dalam penanganan karhutla adalah karakteristik kebakaran di lahan gambut. Titik api sulit diprediksi karena dapat merambat di bawah permukaan tanah dan muncul kembali di lokasi lain. Kondisi ini menuntut kewaspadaan yang tinggi, terutama pada musim kemarau, termasuk melalui patroli rutin untuk mendeteksi potensi kebakaran sejak dini. Sementara itu, Astika Dwi Wulandari, seorang mahasiswa Universitas Tanjungpura yang juga terdampak, menceritakan bahwa asap dari karhutla sangat mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari. Ia menekankan bahwa paparan asap menjadi masalah baik di luar maupun di dalam ruangan. Astika juga mengapresiasi kebijakan Universitas Tanjungpura yang menerapkan pembelajaran jarak jauh untuk melindungi mahasiswa dalam situasi ini.

Mendengar pengalaman tersebut, Gamma mengingatkan bahwa Indonesia adalah satu kesatuan di mana masyarakat saling terhubung dan saling membutuhkan. Ia mengibaratkan kehidupan berbangsa seperti tubuh manusia, di mana setiap bagian memiliki fungsi berbeda namun saling mendukung saat salah satunya mengalami kesulitan. "Saya selalu melihat kehidupan kita seperti tubuh manusia. Ada tangan, kaki, mata, dan berbagai organ yang memiliki fungsi berbeda, tetapi saling membantu. Ketika kaki terluka, tangan secara spontan membantu, mata melihat lukanya, dan pikiran mencari jalan keluar. Begitu juga kita sebagai bangsa Indonesia. Ketika saudara-saudara kita di Kalimantan Barat mengalami kesulitan, kita yang berada di Jakarta ataupun daerah lain harus ikut peduli. Kita ini satu keluarga besar, satu bangsa," ungkap Gamma A. Thohir.

Pengalaman Gamma dalam kegiatan sosial sejak muda membentuk pandangannya tentang pentingnya menumbuhkan rasa kepedulian sebagai bagian dari karakter generasi penerus. Ia berpendapat bahwa pendidikan dan keberhasilan pribadi harus sejalan dengan keinginan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. "Generasi muda tidak cukup hanya pintar, berpendidikan tinggi, atau berhasil dalam pekerjaannya. Mereka juga harus punya hati, kepedulian, dan kemauan untuk melakukan sesuatu bagi orang lain. Keberhasilan seseorang bukan hanya dilihat dari apa yang dicapai untuk dirinya sendiri, tetapi juga dari manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain. Kalau kita punya kesempatan untuk membantu, jangan pernah ragu-ragu. Kalau kita bisa membantu, ya kita bantu. Sesederhana itu," tambah Gamma.

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini, distribusi bantuan dijadwalkan berlangsung pada 10–13 Oktober 2026, melibatkan relawan dari Desabumi dan Komunitas SRE Tanjungpura. Bantuan akan disalurkan ke Pulau Datok, Kabupaten Kayong Utara, serta Desa Ulak Medang, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Perjalanan dari Pontianak menuju lokasi penyaluran bukanlah hal yang mudah. Para relawan harus bersiap menempuh perjalanan sekitar 16 jam melalui jalur darat dan laut, menghadapi tantangan geografis, keterbatasan infrastruktur, serta kebutuhan koordinasi logistik. Namun, berbagai tantangan tersebut tidak mengurangi semangat generasi muda yang terlibat untuk memastikan bantuan dapat sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.

// Artikel Terkait