Seorang pria bernama HS yang berasal dari Brebes, Jawa Tengah, mengaku telah melakukan tindakan keji dengan membunuh dan memutilasi ayah kandungnya. Setelah melakukan perbuatan tersebut, ia menyerahkan diri kepada pihak kepolisian dan menjelaskan detail dari aksi brutalnya.
Peristiwa ini mulai diketahui publik setelah beberapa akun di media sosial, termasuk Instagram, mengunggah informasi mengenai pengakuan HS. Pada hari Kamis, 15 Oktober, HS datang ke Polres Kersana dan mengklaim telah membunuh serta memutilasi ayahnya.
Pernyataan Pihak Kepolisian
Kapolsek Kersana, AKP Teguh Adi Winarko, membenarkan adanya laporan mengenai kasus ini. Ia menyatakan bahwa pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait pengakuan HS. "Masih dalam penyelidikan. Tadi olah TKP untuk hasilnya yang lebih tahu Inafis," ungkapnya melalui pesan singkat pada hari Sabtu, 17 Oktober.
Aiptu Heri Sukamto, Kanit Reskrim Polsek Kersana, menjelaskan bahwa HS mendatangi Mapolsek Kersana pada malam hari Kamis, 16 Oktober. Dalam pemeriksaan, HS mengaku telah membunuh ayahnya beberapa bulan lalu. "Pengakuannya, ayah dia dibunuh dan dipotong 10 bagian. Potongan direbus 2 hari hingga hancur dan dibuang ke Sungai Kluwut yang menuju ke laut. Tulangnya dibakar hingga menjadi abu," kata Heri.
Langkah Penyidikan Polisi
Menindaklanjuti pengakuan tersebut, polisi langsung melakukan penyelidikan di rumah HS yang terletak di Desa Kemukten, Kecamatan Kersana, Brebes. Sebagai bagian dari proses penyelidikan, septic tank di rumahnya dibongkar. "Hari ini (kemarin), rumah HS yang di kompleks perumahan dibongkar bagian septic tank-nya. Ini bagian upaya menindaklanjuti pengakuan HS. Barangkali ada bagian tubuh yang dibuang di WC," jelas Heri.
Tetangga dan kerabat HS, Ina, mengungkapkan bahwa ia tidak pernah melihat ayah HS dalam beberapa waktu terakhir. Menurut Ina, HS mengatakan bahwa ayahnya sedang berjualan siomai di Kota Tegal. Ia juga menambahkan bahwa orang tua HS tidak bekerja dan sering meminta rokok, sehingga tidak ada yang curiga saat jarang bertemu dengan ayah HS.
Ina menggambarkan HS sebagai sosok pemuda yang pendiam dan patuh, yang sangat menyayangi ibu dan kedua adiknya yang masih bersekolah. HS diketahui bekerja di sebuah pabrik sepatu setelah menyelesaikan pendidikan SMA.