Aparat kepolisian menggunakan kereta rel listrik (KRL) untuk mencapai Kampung Bahari, Jakarta Utara, saat melaksanakan operasi penggerebekan pada hari Minggu, 1 November. Penggunaan KRL ini bertujuan untuk memudahkan akses ke lokasi melalui jalur rel yang ada.
Karina Amanda, VP Corporate Secretary KAI Commuter, menjelaskan bahwa perjalanan kereta luar biasa (KLB) rute Jakarta Kota-Tanjung Priok yang berlangsung sekitar pukul 06.25 WIB merupakan hasil koordinasi antara pihak kepolisian dan KAI Commuter. "Dapat kami sampaikan bahwa perjalanan Commuter Line Jakarta Kota-Tanjung Priok pada hari ini, Minggu sekitar pukul 06.25 WIB dengan perjalanan KLB merupakan hasil koordinasi dari pihak kepolisian kepada KAI Commuter untuk mobilitas hingga ke Tanjung Priok," ungkap Karina dalam keterangan resminya.
Keterlambatan Perjalanan KRL
Karina memastikan bahwa perjalanan tersebut tidak mengganggu operasional reguler Commuter Line menuju Tanjung Priok. Namun, KAI Commuter menyampaikan permohonan maaf karena tiga perjalanan KRL Jakarta Kota-Tanjung Priok mengalami keterlambatan antara 4 hingga 19 menit. Keterlambatan ini disebabkan oleh kerumunan warga di jalur rel saat proses penggerebekan berlangsung. "Terdapat tiga perjalanan Commuter Line Jakarta Kota-Tanjung Priok mengalami keterlambatan 4-19 menit yang disebabkan oleh kerumunan warga di rel dalam proses penggerebekan yang dilakukan," jelasnya.
Operasi Penggerebekan Narkoba
Moment aparat kepolisian menggunakan KRL terekam dalam sebuah video yang beredar di media sosial, salah satunya diunggah oleh akun Instagram @infojkt24. Dalam video tersebut, tampak aparat kepolisian berdesakan di dalam gerbong KRL, beberapa di antaranya mengenakan helm dan membawa tameng. Video itu juga menunjukkan saat KRL berhenti di Kampung Bahari dan aparat mulai turun dari gerbong untuk bersiap melakukan penggerebekan.
Operasi penggerebekan narkoba di Kampung Bahari, Jakarta Utara, dilakukan oleh Ditresnarkoba Polda Metro Jaya bekerja sama dengan Dittipidnarkoba Bareskrim Polri dan BNN. "Kita melakukan penggerebekan dari berbagai sisi. Ada dari berbagai arah. Oleh karena itu kita lakukan serempak, kemudian kita berkolaborasi dengan semua pihak, dari BNN, dari Bareskrim, kemudian dari Polda Metro Jaya, Brimob, dan lain sebagainya," kata Dirresnarkoba Polda Metro Jaya, Kombes Bismo Teguh Prakoso.
Dalam penggerebekan tersebut, aparat berhasil menangkap 27 orang yang diduga terlibat dalam kasus narkoba. Selain itu, sejumlah barang bukti juga disita, termasuk sabu, ganja, ekstasi, mesin pencetak ekstasi, alat isap sabu atau bong, senjata tajam, dan senjata api. "Uang tunai (juga) ada. Hasil jadi satu sama barang bukti ganjanya. Jadi hasil penjualan ditaruh di situ berikut ganjanya, juga dengan uang tunainya," tambah Bismo.