Yan Sofyan Syafe'i, pendiri Yayasan Sekolah Islam Harapan Ibu yang berlokasi di Jakarta Selatan, mengungkapkan kesedihannya mengenai penemuan 996 senjata di ruang mantan Ketua Yayasan. Dalam konferensi pers yang berlangsung pada hari Minggu (9/8), Sofyan berharap masalah ini dapat segera ditangani dengan baik.
"Kami selaku pendiri yang mendirikan sekolah ini merasa bersedih sekali dengan adanya hal seperti ini tetapi insya Allah seperti yang tadi saya utarakan mudah-mudahan semua itu dapat diperbaiki dengan sebaik-baiknya," ungkap Sofyan.
Tanggapan Terhadap Tuduhan Kegiatan Ekstrakurikuler
Kuasa hukum yayasan, Alvon Kurnia Palma, meminta agar tuduhan mengenai ratusan senjata yang digunakan untuk kegiatan ekstrakurikuler dapat dibuktikan. Ia menegaskan bahwa klaim tersebut seharusnya tidak dibuat-buat.
"Ketika ada yang mengatakan bahwa ini merupakan kegiatan ekstrakurikuler dan itu sudah disetujui, tolong dibuktikan. Tolong dibuktikan. Jangan sampai ini menjadi suatu hal-hal yang melegitimasi sesuatu hal yang sebenarnya tidak benar," tegas Alvon.
Menanggapi Isu Sengketa Yayasan
Alvon juga membantah adanya sengketa kepemilikan yayasan, menegaskan bahwa tidak ada konflik di antara para pendiri. "Tak ada konflik dalam artian di antara pendiri yayasan itu sendiri. Itu terbukti, pada saat ini sudah ada salah satu pendirinya-selain dari Bapak Adam Malik, mantan Wakil Presiden-kemudian juga dengan Bapak Mahwardi Labae, serta Bapak Suryo yang dituduh kemarin-kemarin itu," jelasnya.
Menurutnya, tujuan pendirian sekolah ini adalah untuk memberikan pendidikan yang baik. "Pada saat ini tidak ada konflik di antara pendiri itu sendiri. Nah, oleh sebab itu kami ingin menyampaikan bahwa visi-misi dari pendiri tetaplah bagaimana mencetak anak yang saleh sebagai suatu harapan," tambahnya.
Pembelajaran Jarak Jauh Diterapkan
Akibat polemik yang terjadi, pihak sekolah memutuskan untuk menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama seminggu mulai dari hari Senin. Alvon menyatakan bahwa keputusan ini diambil demi keamanan siswa.
"Kita semua sebenarnya memiliki concern bahwa untuk menjamin keamanan bagi anak-anak, sementara waktu sekolah itu di-PJJ atau pendidikan jarak jauh," kata Alvon.
Selama pelaksanaan PJJ, pihak yayasan meminta agar polisi melakukan sterilisasi untuk menghilangkan kesan negatif terhadap sekolah. "Sterilisasi perlu dilakukan agar tidak ada kesan buruk yang ditinggalkan sekolah tersebut," jelasnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Lokta Karya Perbakin, Alhadid Endar Putra, yang mengaku sebagai pemilik senjata, menjelaskan bahwa ratusan senjata airsoft gun yang ditemukan adalah legal dan berizin. "Intinya semua ada izinnya, yang temuan 995 (senpi) itu semua ada izinnya," ujarnya.
Alhadid menambahkan bahwa senjata tersebut disimpan di gudang sekolah terkait rencana kegiatan ekstrakurikuler menembak yang direncanakan sebelumnya. "Pertanyaannya, kenapa ada di sekolah yayasan, alasannya karena tahun 2020 itu ada kerja sama kita dengan Pak Suryo, dia pembina juga di yayasan tersebut," imbuhnya.
Di antara senjata yang ditemukan terdapat empat laras panjang, dua laras pendek, peredam, tujuh magasin berbagai jenis, serta sejumlah amunisi dengan berbagai kaliber. Selain itu, juga ditemukan beberapa unit airsoft gun berbentuk FN P90, AK-47, M4 Carbine, taser gun, alat pembuat peluru, hingga buku panduan pembuatan peluru.