Friday, 18 September 2026
Peristiwa

Operasi Pencarian Jurnalis yang Hilang Kontak Dihentikan di Perairan Anak Krakatau

Tim SAR menghentikan pencarian terhadap speed boat yang membawa jurnalis yang hilang di Selat Sunda setelah 10 hari tanpa hasil. Penemuan nomor telepon jurnalis menunjukkan aktivitas terakhir sebelum...

G
Gilang Bagas Baskara
17 September 2026 20 pembaca
Foto: ANTARA FOTO/Putra M. Akbar
Foto: ANTARA FOTO/Putra M. Akbar

Tim SAR gabungan memutuskan untuk menghentikan pencarian terhadap speed boat Arupadhatu 1 yang hilang di perairan Selat Sunda pada Kamis, 17 September 2026. Keputusan ini diambil setelah operasi pencarian yang berlangsung selama sepuluh hari tidak memberikan hasil yang diharapkan.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Banten, Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea, mengungkapkan bahwa nomor telepon salah satu jurnalis terdeteksi pada hari pertama setelah kapal dinyatakan hilang. Nomor tersebut diketahui milik Firdaus Wajidi dari Anadolu. "Nomor tersebut milik Bang Daus, salah satu jurnalis yang berada di dalam kapal. Menggunakan kartu Telkomsel Kartu Halo dengan perangkat iPhone 14," jelasnya pada malam hari yang sama.

Deteksi Sinyal Terakhir

Maruli menjelaskan bahwa nomor telepon tersebut terdeteksi oleh jaringan BTS di wilayah Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, tepatnya di sekitar Pulau Sebesi. Namun, setelah itu, perangkat tersebut tidak aktif dan hingga kini tidak terdeteksi kembali. "Artinya sebelum dinyatakan hilang kontak, masih ditemukan adanya transaksi elektronik di handphone tersebut. Berarti itu di hari Senin, melalui telepon atau telepon WA atau SMS atau chat WA yang ter-record di tower BTS di daerah Pulau Sebesi," tambahnya.

Doa Bersama dan Identifikasi Jenazah

Sementara itu, sekelompok anggota Pewarta Foto Indonesia (PFI) Yogyakarta mengadakan doa bersama pada Jumat, 11 September 2026, sebagai bentuk dukungan terhadap pencarian lima orang jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda.

Terkait dengan penemuan jenazah di Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu, Maruli menyatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Polda Bengkulu untuk proses identifikasi. Jenazah yang ditemukan diperkirakan berjenis kelamin laki-laki, berusia sekitar 50 tahun, dengan tinggi badan sekitar 163 sentimeter. "Pada saat ditemukan, jenazah mengenakan celana pendek jenis boxer dan kondisinya sudah berbau," ungkapnya.

Maruli menambahkan bahwa tidak ada keluarga yang melaporkan kehilangan di wilayah Enggano saat jenazah ditemukan, sehingga Forkopimcam setempat memutuskan untuk menguburkan jenazah tersebut pada malam hari. Polda Banten juga telah menyerahkan data antemortem dari keluarga korban, termasuk data DNA, kepada Polda Bengkulu untuk membantu proses identifikasi. "Proses identifikasi masih berlangsung dan dilakukan secara ilmiah oleh tim terkait, yang biasanya memakan waktu sekitar dua minggu. Namun, kami berharap proses ini dapat diselesaikan lebih cepat untuk memberikan kepastian kepada keluarga," tutupnya.

// Artikel Terkait