Tuesday, 08 September 2026
Hukum & Kriminal

Mahasiswa Diduga Dikeroyok di Kalibata, Jakarta Selatan

Seorang mahasiswa berinisial AHP (20) yang merupakan anak mantan Komandan Banser DKI Jakarta dilaporkan menjadi korban pengeroyokan di Kalibata, Jakarta Selatan, pada 26 Agustus. Kasus ini telah dilap...

M
Made Wirawan
08 September 2026 18 pembaca
Seorang mahasiswa berinisial AHP (20) yang merupakan anak mantan Komandan Banser DKI Jakarta diduga menjadi korban pengeroyokan di kawasan Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan pada 26 Agustus. (Arsip Istimewa)
Seorang mahasiswa berinisial AHP (20) yang merupakan anak mantan Komandan Banser DKI Jakarta diduga menjadi korban pengeroyokan di kawasan Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan pada 26 Agustus. (Arsip Istimewa)

Seorang mahasiswa berinisial AHP (20) yang merupakan anak dari mantan Komandan Banser DKI Jakarta diduga menjadi korban pengeroyokan di kawasan Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan pada tanggal 26 Agustus. Kasus dugaan pengeroyokan ini telah dilaporkan ke Polres Metro Jakarta Selatan dan terdaftar dengan nomor LP/B/3374/VIII/2026/SPKT/Polres Metro Jaksel/Polda Metro Jaya pada tanggal yang sama.

Sekretaris LBH GP Ansor DKI Jakarta, Ismunanda Umafagur, menyatakan bahwa korban merupakan bagian dari keluarga mereka, mengingat ayahnya pernah menjabat sebagai Komandan Banser DKI Jakarta untuk periode 2016-2020. "Korban ini adalah keluarga kita," ujarnya saat memberikan keterangan di Polres Metro Jakarta Selatan pada Senin (7/9).

Awal Mula Peristiwa

Ismunanda menjelaskan bahwa peristiwa tersebut bermula ketika korban bertemu dengan beberapa temannya untuk mengerjakan tugas kuliah pada malam hari tanggal 25 Agustus sekitar pukul 23.00 WIB. Setelah itu, seorang kakak kelas korban menghubunginya dan mengajak untuk bertemu. Dalam pertemuan tersebut, mereka membicarakan pengalaman masa sekolah.

Dalam percakapan itu, korban sempat menyebut nama salah satu individu yang kemudian diduga menjadi pelaku. Individu tersebut kemudian menghubungi korban melalui pesan langsung atau direct message (DM). "Sehingga kemudian terduga pelaku ini kemudian me-DM korban, menanyakan apa yang dibicarakan oleh korban," jelas Ismunanda.

Konflik yang Memuncak

Menurut Ismunanda, dugaan pengeroyokan ini berawal dari rasa tersinggung salah satu terduga pelaku terhadap korban, yang merasa namanya disebut dalam percakapan tersebut. Perselisihan ini kemudian berkembang menjadi konflik yang berujung pada pengeroyokan. Korban dan terduga pelaku sepakat untuk bertemu di Kalibata untuk melakukan klarifikasi.

Setelah itu, terduga pelaku datang bersama dengan teman-temannya, menggunakan tiga mobil dengan jumlah sekitar delapan orang. "Ini menurut keterangan korban, datang bersama teman-temannya menggunakan tiga mobil. Kurang lebih ada sekitar delapan orang," ungkap Ismunanda.

Pada saat kejadian, salah satu teman korban memperingatkan agar menjauh karena salah satu terduga pelaku diduga membawa senjata api. "Singkat cerita terjadi kepanikan karena teman korban ini melihat salah satu terduga pelaku ini mengambil diduga senjata api dari dalam mobil," kata Ismunanda. Korban berusaha melarikan diri, namun terjatuh dan diduga dikeroyok oleh sejumlah orang.

Sementara itu, Wakil Ketua PW GP Ansor DKI Jakarta, Redim Okto, memberikan apresiasi terhadap kepolisian dalam menangani kasus ini. Namun, mereka berharap agar proses penanganan perkara dapat dilanjutkan dengan lebih konkret sesuai dengan hukum yang berlaku. "Ini harus ada tindakan yang lebih konkret, tindakan lebih lanjut agar perkara ini segera ditindaklanjuti," ujarnya.

Di sisi lain, Kasi Humas Polres Metro Jakarta Selatan, AKP Joko Adi Wibowo, mengonfirmasi bahwa pihaknya sedang menangani kasus dugaan pengeroyokan ini. Ia menyatakan bahwa kasus tersebut telah dinaikkan dari tahap penyelidikan ke penyidikan. "Saat ini kan kita sudah tingkatkan ke tahap penyidikan, karena dinilai sudah cukup bukti bahwa perkara ini adalah perkara pidana," jelas Joko.

// Artikel Terkait