JAKARTA— Meskipun Universitas Indonesia membatalkan lokasi acara pada menit-menit terakhir, Konferensi Republik tetap berlangsung dengan sukses. Forum yang mengkonsolidasikan masyarakat sipil ini diadakan secara daring dan dihadiri oleh lebih dari 200 peserta dari berbagai organisasi masyarakat sipil, serta sekitar 150 peserta yang hadir secara langsung di sebuah kafe di Cikini, Jakarta Pusat.
Setelah hampir lima jam diskusi, forum ini mencapai kesepakatan mengenai tiga mandat yang akan menjadi dasar langkah ke depan: pembentukan sebuah platform bersama, desain pengorganisasian, dan pembentukan pengurus perintis. Sudirman Said, Ketua Umum Konferensi Republik, mengungkapkan rasa syukurnya atas semangat yang muncul selama forum dan menegaskan bahwa antusiasme peserta tidak berkurang meskipun acara mengalami beberapa dinamika.
Kesinambungan dan Partisipasi
“Kalau berkaca pada Konferensi Republik sebelumnya di Yogyakarta, forum ini tidak kalah luar biasa,” ujar Said dalam keterangannya di Jakarta. Dia menekankan bahwa karakter forum tetap terjaga, yaitu tumbuh dari bawah, kolektif, dan partisipatif. Menurutnya, kegelisahan yang dirasakan di berbagai daerah menjadi alasan bagi orang-orang dari tujuh generasi untuk berkumpul, dan momentum ini memerlukan ruang publik untuk membahas isu-isu yang ada. “Ini untuk mengingatkan bahwa republik ini bukan milik perseorangan,” tambahnya.
Jaleswari Pramodhawardani, Wakil Ketua Umum, menegaskan bahwa pembatalan lokasi tidak menimbulkan pesimisme. “Hari ini republik tanpa warga begitu terasa,” katanya. Dia menjelaskan bahwa diskusi sengaja dilakukan di ruang publik untuk memastikan gagasan-gagasan yang saling terhubung dapat disusun bersama dan diwujudkan dalam aksi nyata. Jaleswari juga menekankan pentingnya merawat perbedaan sambil menekankan hal-hal yang krusial dan menyisihkan yang kurang penting. “Bukan cuma antusiasme, tetapi betapa kita mencintai Indonesia,” ujarnya.
Model Kepemimpinan dan Jejaring
Yanuar Nugroho, Sekretaris Jenderal Konferensi Republik, menjelaskan dua hasil utama dari forum. Platform yang disepakati bertujuan untuk menyatukan berbagai pihak yang berbeda, sementara desain organisasinya berbentuk jejaring yang menghubungkan banyak aktor dari latar belakang yang berbeda dengan tujuan yang sama, bukan sekadar struktur pusat dengan cabang. Dia menyoroti bahwa kegelisahan serupa juga muncul di kalangan mahasiswa, profesional, dan anak muda, dan jejaring inilah yang ingin dibangun untuk menghubungkan mereka. “Anda tidak sendirian,” kata Yanuar.
Selain itu, Yanuar juga menekankan pentingnya model kepemimpinan yang bersifat institusional dan kolektif. “Ini bukan tentang siapa, tetapi tentang bagaimana,” ujarnya. Ia menilai bahwa terlalu lama publik dibiarkan pada kepemimpinan yang pragmatis dan egosentrik, dan forum ini menawarkan alternatif. “Tujuannya mengembalikan warga negara menjadi subjek, bukan objek,” tambahnya, sembari menekankan bahwa seluruh pembahasan berlangsung dalam semangat mencari terobosan dan gotong royong lintas generasi, sektor, dan aktor.
Razaan Bayu Rachman, anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia yang berkolaborasi dalam acara ini, menyatakan bahwa masyarakat membutuhkan lebih banyak ruang seperti ini, yaitu ruang intelektual yang mempertemukan semangat yang sama dari berbagai kalangan. Dia berharap Konferensi Republik dapat menginspirasi lahirnya forum-forum serupa yang membuka diskusi bagi seluruh elemen masyarakat sipil. “Kita punya tujuan yang sama, dan kita butuh wacana perubahan yang lebih konkret lagi,” ujarnya.