Wednesday, 19 August 2026
Peristiwa

Makna Kemerdekaan Menurut Sudirman Said: Keterikatan pada KKN Masih Ada

Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said, menekankan bahwa kemerdekaan sejati tidak hanya berarti bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga mengharuskan warga negara untuk berpartisipasi secara...

N
Ni Luh Ayu Sari
18 August 2026 2 pembaca
Foto: Dok Istimewa
Foto: Dok Istimewa

Sudirman Said, yang menjabat sebagai Rektor Universitas Harkat Negeri (UHN), menegaskan bahwa makna kemerdekaan yang sesungguhnya tidak hanya terletak pada bebasnya Indonesia dari penjajahan fisik. Menurutnya, kemerdekaan sejati adalah ketika warga negara bergerak secara sukarela untuk mengelola kehidupan bersama, bukan karena terpaksa oleh aturan atau kekuasaan.

Prinsip Usaha Bersama

Dalam orasi kemerdekaan yang disampaikan pada Senin, 17 Agustus 2026, di Universitas Harkat Negeri, Sudirman menjelaskan bahwa prinsip ini merupakan bentuk usaha kolektif, yang berlawanan dengan karakter paksaan yang sering kali terlihat pada masa kolonial. Ia menyatakan, “Warga membayar pajak karena takut sanksi adalah upaya paksa.”

Dia menambahkan bahwa kesadaran warga untuk membayar pajak sebagai kontribusi dalam membiayai kehidupan bersama adalah contoh dari usaha kolektif. Sudirman juga menekankan bahwa memilih pemimpin seharusnya didasari oleh keinginan untuk mencari yang terbaik, bukan karena iming-iming uang atau janji, yang merupakan bentuk paksaan yang terselubung. “Warga memilih pemimpin karena ingin sungguh-sungguh mencari yang terbaik adalah usaha bersama,” ujarnya.

Perbedaan Antara Paksaan dan Usaha Bersama

Sudirman menjelaskan bahwa perbedaan antara paksaan dan usaha bersama tidak hanya terletak pada hasil yang tampak, tetapi lebih pada motivasi yang mendasarinya. Dalam konteks usaha bersama, rakyat berperan aktif dengan menggabungkan modal, sumber daya, dan kemampuan untuk kepentingan bersama, alih-alih hanya menjadi objek atau penonton dari kebijakan yang ditetapkan oleh pihak atas.

Dia mengaitkan gagasan usaha bersama ini dengan lirik lagu kebangsaan Indonesia, “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya.” Menurutnya, pembangunan jiwa harus menjadi prioritas sebelum pembangunan fisik. Nilai-nilai luhur seperti kejujuran, integritas, dan keberanian harus diutamakan, karena tanpa jiwa yang baik, kemajuan fisik dan ekonomi tidak akan berarti.

Sudirman menegaskan, “Tanpa jiwa yang lurus, kemajuan fisik dan ekonomi sebesar apa pun hanya akan bergerak seperti kapal tanpa kompas.” Ia menyoroti bahwa saat ini banyak orang yang mengedepankan kecerdasan intelektual tanpa memperhatikan kebeningan hati. “Hari-hari ini, kondisi ‘kapal tanpa kompas’ tengah marak. Kelincahan otak diunggulkan, kebeningan nurani ditinggalkan,” tutupnya.

// Artikel Terkait