BANDUNG - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Barat mengungkapkan bahwa sektor hotel dan restoran di daerah tersebut mengalami penurunan yang signifikan sejak Januari hingga Juli 2026. Mereka mencatat bahwa peningkatan okupansi hanya terjadi selama libur panjang dan masa liburan sekolah.
Kondisi Bisnis Perhotelan yang Mengkhawatirkan
Ketua PHRI Jawa Barat, Dodi Ahmad Sofiandi, menyatakan bahwa bisnis perhotelan telah mengalami kelesuan yang berkepanjangan sejak awal tahun. Ia mencatat bahwa meskipun ada peningkatan okupansi pada saat-saat tertentu, secara keseluruhan, kondisi ini sangat memprihatinkan. "Modenya lesu," ungkapnya saat dihubungi pada akhir pekan lalu, Ahad (19/7/2026).
Dodi menjelaskan bahwa pada bulan Januari hingga Maret, tingkat okupansi hotel hanya mencapai 50 persen. Namun, pada bulan Mei hingga Juni, terdapat peningkatan okupansi yang signifikan berkat libur panjang dan liburan sekolah. Meskipun demikian, beberapa hotel terpaksa melakukan efisiensi pegawai untuk mengatasi situasi tersebut.
Persaingan dengan Akomodasi Alternatif
Di sisi lain, Dodi mengamati bahwa hotel-hotel melati di Jawa Barat, terutama di Kota Bandung, mengalami penurunan okupansi yang drastis. Ia berpendapat bahwa salah satu penyebabnya adalah munculnya apartemen, home stay, dan jenis akomodasi lain yang lebih mudah disewakan kepada masyarakat. Dodi menekankan bahwa banyak dari akomodasi tersebut tidak memiliki izin resmi, yang berkontribusi pada penurunan okupansi hotel-hotel melati.
Selain itu, hotel yang tidak berada di kawasan wisata juga mengalami tingkat okupansi yang rendah. Dodi berharap agar kondisi lesu ini tidak berlanjut dan meminta pemerintah untuk lebih memperhatikan situasi bisnis hotel dan restoran di daerah tersebut.