Wednesday, 26 August 2026
Peristiwa

Kekuatan Terancam: Suara Kritis yang Hilang Sebagai Indikator Kerapuhan

Kekuatan suatu entitas tidak selalu runtuh akibat serangan eksternal, tetapi dapat mulai melemah ketika dukungan dari dalam mulai menghilang. Hal ini diungkapkan dalam bedah buku karya Dr. Eko Surya L...

N
Ni Luh Ayu Sari
26 August 2026 5 pembaca
Foto: dok pribadi
Foto: dok pribadi

Suatu kekuatan tidak selalu mengalami keruntuhan akibat serangan dari luar. Proses keruntuhan bisa dimulai lebih awal ketika individu-individu di dalamnya memilih untuk diam dan menarik dukungan mereka secara sukarela. Konsep ini menjadi inti pembahasan dalam bedah buku berjudul The Secret Weakness of Every Great Power yang ditulis oleh Dr. Eko Surya Lesmana, seorang profesional di bidang manajemen risiko dan saat ini menjabat sebagai Deputi Bidang Manajemen Risiko di Badan Pengelola Keuangan Haji. Acara ini akan berlangsung di Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang pada 29 Agustus 2026.

Menurut Eko, kesunyian sering kali disalahartikan sebagai bentuk persetujuan. Seorang pemimpin dapat merasa semakin kuat ketika tidak mendengar adanya penolakan, padahal kondisi tersebut justru bisa menjadi sinyal bahwa kepercayaan mulai memudar. “Diam sering menjadi tanda paling awal. Ruangan yang sunyi belum tentu berisi kepala yang setuju. Bisa jadi ruangan itu berisi hati yang sudah berhenti ikut memikirkan masalah yang sedang kita hadapi,” ungkap Eko dalam keterangan yang diterima.

Konsep SPLIT dan Contoh Sejarah

Pengalaman Eko membawanya pada sebuah konsep yang disebut SPLIT, yang menggambarkan situasi di mana kekuasaan dari luar tampak utuh, namun dukungan dan kepercayaan dari dalam perlahan-lahan menghilang. Eko mencontohkan keruntuhan Uni Soviet yang menunjukkan kondisi ini dengan jelas. Ketika bendera Uni Soviet diturunkan pada tahun 1991, negara tersebut masih memiliki kekuatan senjata nuklir dan struktur pemerintahan yang utuh. Namun, kepercayaan rakyat terhadap sistem yang ada telah hilang jauh sebelumnya.

Dalam bedah buku tersebut, Eko menyampaikan bahwa kekuatan tidak hanya ditentukan oleh besarnya kekuasaan, tetapi juga oleh kesediaan orang-orang di dalamnya untuk tetap percaya dan berkontribusi ketika situasi sulit. Kisah-kisah sejarah yang diangkat menunjukkan perbedaan antara kekuasaan yang tampak kuat dan kepemimpinan yang benar-benar mendapatkan dukungan. Misalnya, Winston Churchill memilih untuk berbicara jujur kepada rakyat Inggris saat perang, sementara Mahatma Gandhi berhasil mengubah dukungan rakyat menjadi gerakan yang mudah dipahami melalui aksi membuat garam.

Pentingnya Kepercayaan dalam Kepemimpinan

Eko menyampaikan pesan penting bagi para pemimpin bahwa mereka tidak hanya perlu dicintai, tetapi juga harus menciptakan cara agar dukungan dapat diwujudkan dalam tindakan nyata. Kemenangan tidak hanya cukup diraih, tetapi juga harus dijaga melalui kepercayaan dan struktur yang kokoh. “Pemimpin yang baik belum tentu yang paling dicintai. Pemimpin yang baik tetap bisa dipercaya bahkan ketika rakyatnya tidak sependapat dengannya,” jelas Eko.

Buku The Secret Weakness of Every Great Power ditulis dalam bahasa Inggris untuk menjangkau pembaca internasional. Karya ini membawa gagasan yang berasal dari pengalaman seorang profesional manajemen risiko di Indonesia ke dalam diskusi global mengenai kekuasaan, dukungan, dan kepercayaan. Eko berharap bedah buku ini dapat membuka percakapan yang lebih jujur tentang kepemimpinan. Menurutnya, keberanian untuk menyampaikan pendapat yang berbeda bukanlah ancaman bagi pemimpin, melainkan menunjukkan bahwa orang-orang masih percaya pendapat mereka akan didengar. “Trust adalah mata uang universal. Nilainya sama di ruang keluarga maupun di ruang negara. Karena itu kepercayaan harus terus kita investasikan melalui kejujuran dan keberanian mendengar,” tegasnya.

// Artikel Terkait