Monday, 29 June 2026
Peristiwa

ITS Ciptakan Bensin Sawit Benwit RON 90, Teknologi Baru Diklaim Mampu Kurangi Impor BBM Indonesia

Surabaya – Terobosan besar di bidang energi terbarukan kembali lahir dari Indonesia. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berhasil mengembangkan Biogasoline Sawit ITS (Benwit)....

D
Doni Setiawan
29 June 2026 4 pembaca
ITS Ciptakan Bensin Sawit Benwit RON 90, Teknologi Baru Diklaim Mampu Kurangi Impor BBM Indonesia
Sumber gambar: kabarnetizenterkini.com
Surabaya – Terobosan besar di bidang energi terbarukan kembali lahir dari Indonesia. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berhasil mengembangkan Biogasoline Sawit ITS (Benwit) RON 90, bahan bakar alternatif berbasis minyak kelapa sawit (CPO) yang digadang-gadang mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. (Institut Teknologi Sepuluh Nopember)

Inovasi yang dikembangkan selama kurang lebih tiga tahun ini dipimpin oleh dosen Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS, Dr. Eng. Hosta Ardhyananta, bersama tim peneliti dengan dukungan pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Penelitian tersebut memanfaatkan teknologi catalytic cracking untuk mengubah minyak sawit menjadi bensin beroktan RON 90 yang diberi nama Benwit. (Institut Teknologi Sepuluh Nopember)

Menurut Hosta Ardhyananta, apabila Benwit dapat diimplementasikan secara luas melalui sistem pencampuran (blending), Indonesia berpotensi menghemat konsumsi BBM nasional hingga 10 persen.

Angka tersebut dinilai sangat signifikan mengingat pemanfaatan biogasoline di berbagai negara saat ini rata-rata masih berada di kisaran lima persen. Dengan demikian, Indonesia memiliki peluang menjadi salah satu negara terdepan dalam pengembangan bahan bakar nabati berbasis sawit. (Institut Teknologi Sepuluh Nopember)

Berbeda dengan penelitian sebelumnya, tim ITS kini berhasil menyempurnakan proses produksi Benwit menggunakan katalis berbasis nikel oksida (NiO) dan tembaga oksida (CuO).

Pengembangan tersebut mampu meningkatkan efisiensi proses produksi dengan menurunkan suhu operasi dari sekitar 420°C menjadi 380°C, sekaligus meningkatkan rendemen biogasoline hingga mencapai sekitar 83 persen pada proses konversi laboratorium. Selain itu, produk samping yang dihasilkan tetap dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar lain sehingga mendukung konsep minim limbah (zero waste). (Institut Teknologi Sepuluh Nopember)

Selain menghasilkan bahan bakar alternatif, Benwit juga menawarkan manfaat lingkungan. Berdasarkan hasil pengujian awal, penggunaan campuran Benwit menunjukkan emisi gas buang yang lebih rendah dibandingkan penggunaan bensin konvensional.

Tim peneliti ITS juga melakukan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA) yang menunjukkan jejak karbon produksi Benwit relatif rendah sehingga mendukung target transisi menuju energi bersih dan pencapaian target Net Zero EmissionIndonesia. (Institut Teknologi Sepuluh Nopember)

Saat ini Benwit masih diterapkan melalui metode blending, yaitu mencampurkan bensin sawit dengan bensin konvensional. Pendekatan ini dipilih karena kendaraan yang sudah beredar tidak memerlukan modifikasi mesin yang besar.

Sementara itu, penggunaan Benwit secara penuh (100 persen) masih membutuhkan penelitian lanjutan agar kompatibel dengan berbagai jenis mesin kendaraan. (Institut Teknologi Sepuluh Nopember)

Pengembangan Benwit mendapat perhatian pemerintah sebagai bagian dari strategi hilirisasi kelapa sawit dan penguatan kemandirian energi nasional. Di tengah upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor energi, inovasi ini dinilai memiliki prospek besar apabila mampu diproduksi dalam skala industri.

ITS sendiri menyatakan akan terus mengembangkan kapasitas produksi, memperluas uji coba, serta berkoordinasi dengan Kementerian ESDM agar Benwit dapat masuk ke tahap implementasi yang lebih luas sebagai proyek strategis nasional. (Institut Teknologi Sepuluh Nopember)

Keberhasilan ITS mengembangkan Benwit menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya memiliki cadangan kelapa sawit terbesar di dunia, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi teknologi yang memberikan nilai tambah tinggi.

Apabila pengembangan ini berhasil dikomersialisasikan, Benwit berpotensi menjadi salah satu solusi penting dalam mengurangi impor BBM, meningkatkan nilai ekonomi industri sawit, menekan emisi karbon, serta memperkuat ketahanan energi nasional di masa depan.



// Artikel Terkait