Wednesday, 21 October 2026
Hukum & Kriminal

BNPT Mengungkapkan 4.000 Anak Terpapar Ideologi Kekerasan di Era Digital

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melaporkan bahwa sekitar 4.000 anak di Indonesia terpapar ideologi kekerasan, dengan banyak di antaranya terpengaruh melalui media digital.

N
Ni Luh Ayu Sari
21 October 2026 5 pembaca
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkap tingginya kerentanan anak terhadap paparan ideologi kekerasan di ruang digital. (CNN Indonesia/Farida)
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkap tingginya kerentanan anak terhadap paparan ideologi kekerasan di ruang digital. (CNN Indonesia/Farida)

Medan, CNN Indonesia -- Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkapkan tingginya kerentanan anak-anak terhadap ideologi kekerasan yang tersebar di ruang digital. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2026, sekitar 740 anak terpapar paham tersebut, dengan 300 di antaranya terhubung dengan jaringan tertentu.

Dalam sebuah acara yang bertajuk Literasi Digital Berbasis Moderasi, yang diadakan oleh Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di Medan pada Selasa (20/10), Plt Deputi Bidang Kesiapsiagaan Nasional dan Kontra Radikalisasi BNPT, Irjen Wawan Ridwan, mengungkapkan bahwa informasi dari Densus 88 Antiteror Polri menunjukkan bahwa jumlah anak yang terpapar ideologi kekerasan telah mencapai 4.000 orang.

Pentingnya Literasi Digital

Ridwan menjelaskan bahwa meskipun ada data yang menunjukkan 740 anak terpapar di 26 provinsi, perkiraan dari Densus 88 menyebutkan angka yang lebih tinggi. "Bayangkan sudah 4.000 sekian dan kita tidak tahu, seolah-olah kita tidak ada masalah," ujarnya. Ia menekankan bahwa rendahnya literasi digital menjadi faktor yang membuat anak-anak lebih rentan terhadap informasi yang tidak benar.

Menurut penelitian BNPT di Sumatera Utara, internet dan media sosial merupakan saluran utama penyebaran ideologi kekerasan. "Kemudahan dalam memperoleh dan menyebarkan informasi dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menyebarkan propaganda dan ujaran kebencian," tambahnya.

Peran Guru dalam Pencegahan

Ridwan menyatakan bahwa perubahan pola belajar anak saat ini tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga melalui media sosial dan platform digital lainnya. Ia menegaskan bahwa guru memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan nilai kebangsaan siswa. "Bapak dan Ibu guru membentuk karakter, kemudian juga menanamkan nilai kebangsaan, dan menjadi teladan," ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar guru dapat menjadi pendengar yang baik dan peka terhadap perubahan perilaku siswa. "Banyak tanda awal kerentanan muncul dalam bentuk sederhana, yaitu anak yang menarik diri atau mulai memusuhi temannya," katanya.

Ridwan mendorong para guru untuk tidak hanya menerima informasi, tetapi juga aktif memproduksi konten yang positif. "Marilah kita menjadi produsen pesan positif, bukan sekadar penerima informasi," tutupnya. Dengan demikian, nilai-nilai positif dapat menjadi alternatif bagi narasi kebencian yang beredar di media sosial.

Sementara itu, anggota DPR RI Komisi XIII, Sugiat Santoso, memberikan apresiasi terhadap program literasi digital yang dijalankan oleh BNPT. Ia menekankan pentingnya keterlibatan tenaga pendidik dalam menyampaikan pemahaman mengenai bahaya ideologi kekerasan kepada anak-anak.

Sugiat juga mengingatkan bahwa tanggung jawab pencegahan tidak hanya terletak pada satu pihak saja, tetapi juga melibatkan peran keluarga dan pendidikan. "Peran dunia pendidikan itu peran guru lah," tutupnya.

// Artikel Terkait