Thursday, 18 June 2026
Peristiwa

Analisis Penyebab Pemadaman Bergilir di Pulau Jawa

Pemadaman bergilir terjadi di berbagai daerah di Pulau Jawa, memicu spekulasi terkait pasokan batubara yang menurun, meskipun Kementerian ESDM menyatakan ini hanya masalah teknis. Lembaga IESR meminta...

D
Doni Setiawan
12 June 2026 11 pembaca
Foto: ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
Foto: ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Pemadaman bergilir telah berlangsung di sejumlah lokasi di Pulau Jawa, menimbulkan berbagai spekulasi mengenai penyebabnya. Meskipun ada anggapan bahwa pemadaman ini disebabkan oleh berkurangnya pasokan batubara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah membantah rumor tersebut dan menyatakan bahwa pemadaman ini merupakan masalah teknis.

Pertanyaan dari IESR

Lembaga think-tank Institute for Essential Services Reform (IESR) mengungkapkan keprihatinan atas penjelasan awal mengenai gangguan sistem kelistrikan yang menyebabkan pemadaman listrik di beberapa wilayah Jawa pada tanggal 9 dan 10 Juni 2026. IESR berpendapat bahwa dalam sistem interkoneksi Jawa-Madura-Bali (Jamali), gangguan pada satu pembangkit seharusnya tidak menyebabkan pemadaman massal dengan mudah. Pemadaman massal dapat terjadi jika PLN melakukan pemadaman untuk mengurangi beban listrik.

"Dalam sistem kelistrikan Jamali, gangguan pada satu pembangkit atau satu elemen jaringan seharusnya dapat diantisipasi melalui ketersediaan cadangan daya, sistem proteksi, dan redundansi jaringan yang memadai," jelas IESR. Mereka menambahkan bahwa ketentuan reserve margin yang mencapai 30 persen seharusnya memberikan jaminan keamanan pasokan untuk pembangkit.

Desakan untuk Investigasi Menyeluruh

IESR mendesak Kementerian ESDM untuk melakukan investigasi menyeluruh guna memahami penyebab, faktor pemicu, serta kelemahan dalam sistem yang memungkinkan gangguan berkembang menjadi pemadaman yang luas. Hasil dari investigasi tersebut juga diharapkan dapat disampaikan kepada publik sebagai bentuk akuntabilitas.

Menurut IESR, pemadaman di sistem Jamali juga perlu mendapatkan perhatian dari Presiden Prabowo Subianto, karena dampaknya terhadap ketahanan energi, daya saing, serta kerugian ekonomi bagi dunia usaha dan masyarakat. "Pemadaman bergilir yang terjadi selama tiga hari terakhir merugikan konsumen secara finansial. Walaupun konsumen berhak mendapatkan ganti rugi, nilai ganti rugi tersebut tidak sebanding dengan biaya dan kerugian yang terjadi akibat pemadaman listrik," ungkap CEO IESR, Fabby Tumiwa, pada Kamis (11/6/2026).

IESR juga mencatat bahwa pemadaman bergilir yang terjadi belakangan ini dipicu oleh rendahnya cadangan bahan bakar di beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di sistem Jawa-Bali, sehingga harus beroperasi di bawah kapasitas optimal. Keterbatasan pasokan batubara telah membuat Hari Operasi Pembangkit (HOP) berada di bawah batas aman. Selain itu, gangguan pada pembangkit seperti yang terjadi di PLTGU Jawa 1 juga mengakibatkan berkurangnya pasokan listrik.

// Artikel Terkait