Rocky Gerung, seorang akademisi dari Universitas Indonesia, baru-baru ini menjadi sorotan di media sosial akibat beberapa pernyataannya. Ia mendapat kritik karena dianggap tidak seimbang dalam pandangannya, di mana ia dinilai lebih kritis terhadap pemerintahan Presiden Joko Widodo dibandingkan dengan kepemimpinan Prabowo Subianto.
Pada acara bedah buku "MARHAENISME: Dalil Baru untuk Gen Z" yang disiarkan oleh PDIP Perjuangan Surabaya pada 27 Juni lalu, Rocky memberikan penjelasan terkait tuduhan tersebut. Ia menanggapi pertanyaan yang sering diajukan kepadanya, "Wartawan bertanya ke saya, aktivis bertanya ke saya 'Rocky Gerung Anda harus mengkritik seperti Anda mengkritik ke Jokowi dong, kenapa lemah ke Prabowo, Anda gak jujur'?"
Kritik terhadap Kebijakan Prabowo
Rocky kemudian mempertanyakan apa yang seharusnya ia kritik dari Prabowo. Ia menyebutkan bahwa ia mengkritik Prabowo terkait pengeluaran pemerintah untuk Ibu Kota Negara Nusantara (IKN). Ia juga mengungkapkan bahwa ia merasa dirugikan karena harus menanggung biaya untuk proyek Whoosh yang terjadi 170 tahun lalu. "Betul enggak?," tanyanya.
Namun, ia juga mengajukan pertanyaan kembali, "siapa yang awal mula membangun semua proyek tersebut." Dengan nada menyindir, Rocky menegaskan, "Astagfirullah? yang bikin Whoosh itu siapa, yang bikin IKN itu siapa? kenapa yu bilang 'betul'?"
Pentingnya Memfilter Persoalan
Rocky menekankan bahwa kemampuan untuk memfilter permasalahan telah hilang, sehingga ia merasa tidak mungkin untuk mengkritik Prabowo dengan cara yang sama seperti ia mengkritik Jokowi. "Ini yang saya mau bilang bagaimana kemampuan kita untuk memfilter persoalan itu telah hilang, enggak mungkin saya kritik Prabowo seperti saya kritik Jokowi," ujarnya.
Dengan pandangan tersebut, Rocky Gerung menunjukkan bahwa ia memiliki pendekatan yang berbeda dalam menilai kebijakan dari kedua pemimpin tersebut, yang mencerminkan kompleksitas situasi politik yang ada.