Tuesday, 01 September 2026
Olahraga

Transformasi Sistem Penilaian Bulu Tangkis: Dari 21 Poin ke 15 Poin

Kejuaraan Dunia BWF di New Delhi menandai berakhirnya era sistem penilaian 21 poin, dengan rencana pengenalan sistem 15 poin yang memicu perdebatan di kalangan pemain dan pelatih.

N
Ni Luh Ayu Sari
01 September 2026 11 pembaca
Podium Tunggal Putra Kejuaraan Dunia 2026/[Foto:BWF]
Podium Tunggal Putra Kejuaraan Dunia 2026/[Foto:BWF]

Di ajang Kejuaraan Dunia BWF yang berlangsung di New Delhi, terjadi perdebatan antara para pemain dan pelatih mengenai penerapan sistem penilaian 15 poin yang akan segera diberlakukan dalam olahraga bulu tangkis. Dengan berakhirnya era 21 poin, muncul pertanyaan apakah sistem baru ini akan meringankan beban para atlet atau justru mengubah cara permainan.

Mulai Januari mendatang, saat musim BWF World Tour 2027 dimulai, bulu tangkis akan kembali menggunakan sistem penilaian 3x15 poin, menggantikan sistem 21 poin yang selama ini diterapkan. Kejuaraan Dunia di New Delhi ini menjadi turnamen terakhir yang menggunakan format 21 poin. Meskipun sistem 15 poin bukanlah hal baru, karena telah digunakan hingga tahun 2006, perubahan ini kembali menjadi sorotan.

Sejarah dan Alasan Perubahan

Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) yang mendukung perubahan ini menyatakan bahwa sistem baru akan membuat olahraga bulu tangkis lebih sederhana dan lebih mudah diakses oleh penonton. Namun, sistem 15 poin yang akan diterapkan tidak akan mengembalikan aturan servis-over lama, di mana poin hanya dapat dimenangkan oleh pemain yang melakukan servis.

Thomas Lund, sekretaris jenderal BWF dan mantan pemain, menjelaskan bahwa pengurangan enam poin dari format yang ada bertujuan untuk mengurangi beban fisik pada para pemain. "Beban pada para pemain semakin besar. Kami berusaha membantu para pemain sebisa mungkin agar tidak cedera. Kami mencoba mencapai keseimbangan dengan sedikit mengurangi beban. Ini bukan revolusi; ini adalah evolusi dari sistem penilaian," ungkap Lund dalam konferensi pers di Stadion Indoor Indira Gandhi.

Tantangan dan Adaptasi Pemain

Cedera di kalangan pemain telah menjadi masalah umum, dengan banyak atlet kesulitan beradaptasi dengan jadwal padat BWF World Tour. Pemandangan pemain yang menggunakan kompres es di kaki mereka bukanlah hal yang jarang. Contohnya, An Se Young tiba dengan cedera lutut kiri namun berhasil meraih medali emas tunggal putri di New Delhi.

Para pemain telah lama mengeluhkan kelelahan akibat kompetisi yang beruntun, dengan sedikit waktu untuk pemulihan. Namun, BWF belum mengambil langkah untuk mengatasi masalah ini dan malah memilih untuk mengubah sistem penilaian. Saat ini, para pemain berusaha mengatasi tantangan dengan fokus pada penguatan fisik, pemulihan, dan peningkatan daya tahan.

Negara seperti Prancis menggunakan analisis data untuk merencanakan turnamen dan pelatihan pemain, memilih untuk berkompetisi di turnamen tertentu saja. Dengan Alex Lanier di nomor tunggal putra dan Thom Gicquel-Delphine Delrue di nomor ganda campuran, Prancis berhasil meraih dua medali emas, yang semakin menegaskan kredibilitas sistem tersebut.

Seiring dengan meningkatnya fokus pada aspek fisik, permainan bulu tangkis juga mengalami evolusi, beralih dari permainan yang lambat menjadi lebih dinamis dengan kekuatan eksplosif dan gerakan cepat. Pertandingan menjadi semakin intens, dengan rata-rata durasi pertandingan melebihi 50 menit, mencerminkan peningkatan keterampilan pengembalian bola para pemain.

Thinaah Muralitharan, bintang ganda putri Malaysia, menyatakan, "Para pemain sekarang jauh lebih agresif dan permainan jauh berbeda dari 10 tahun yang lalu. Kami telah mencoba beradaptasi." Munculnya negara-negara seperti Prancis dan Kanada menunjukkan perkembangan positif dalam bulu tangkis.

Di Kejuaraan Dunia, meskipun Prancis meraih dua medali emas, Garret Tan dari AS juga menciptakan kejutan dengan mengalahkan Lakshya Sen, favorit tuan rumah. Kebangkitan kakak beradik Stoeva dari Bulgaria, Gabriela dan Stefani, menunjukkan tren yang sama. Evolusi permainan ini telah berlangsung selama 20 tahun, dan perubahan format penilaian dapat berpotensi mengancam kemajuan yang telah dicapai oleh banyak pemain dan negara, memaksa mereka untuk beradaptasi kembali dari awal.

// Artikel Terkait