Tentara Nasional Indonesia (TNI) telah mengerahkan Tim Alfa untuk menanggulangi kebakaran yang terjadi di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur. Pengerahan tim ini dilakukan setelah Presiden Prabowo Subianto memberikan instruksi untuk mempercepat penanganan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah tersebut.
Penugasan Tim Alfa
Panglima Kodam XXI/Radin Inten, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, menyatakan bahwa Tim Alfa adalah satuan kecil yang dibentuk untuk menjalankan misi taktis di medan yang sulit, termasuk dalam operasi penanggulangan bencana. "Tim ini memiliki kemampuan mobilitas tinggi untuk menjangkau wilayah yang terisolasi. Tim ini juga didukung oleh personel yang berkemampuan sebagai penerjun freefall (terjun bebas militer) guna menembus wilayah-wilayah yang terisolasi atau sulit dijangkau," ujarnya di Bandar Lampung.
Perkembangan Kebakaran
Kebakaran di Way Kambas pertama kali terdeteksi pada Jumat (21/8/2026) di Resor Kuala Penet dan berhasil dipadamkan pada Sabtu (22/8/2026) setelah membakar sekitar 673 hektare. Namun, kebakaran kembali muncul pada Minggu (23/8/2026) di lokasi berbeda di sekitar Desa Braja Luhur, Kecamatan Braja Selebah. Hingga Senin, luas area yang terdampak kebakaran mencapai sekitar 774,14 hektare, terdiri dari 673,4 hektare di Resor Kuala Penet dan 100,74 hektare di lokasi baru.
Kepala Balai TNWK MHD Zaidi menyatakan bahwa tim masih melanjutkan pemadaman dan pendinginan. Dalam rapat koordinasi penanganan karhutla Sumatra yang dipimpin oleh Prabowo secara daring, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal melaporkan bahwa sekitar 100,7 hektare masih menjadi fokus penanganan, sementara 79 titik panas terpantau di wilayah Lampung.
Peningkatan Operasi Udara
Pemerintah juga memperkuat operasi udara dalam penanganan kebakaran. Kristomei menyampaikan bahwa dalam rapat koordinasi, Prabowo menerima laporan mengenai kebutuhan helikopter water bombing untuk menjangkau titik api yang sulit dicapai. Dua helikopter telah disiapkan dari Palembang dan Jawa Timur, namun Prabowo menganggap jumlah tersebut masih belum mencukupi. "Presiden pun memutuskan untuk menambah kekuatan armada udara dan melipatgandakan bantuan peralatan pemadaman darat guna mempercepat proses pendinginan lahan," kata Kristomei.
Dalam rapat tersebut, Prabowo juga memerintahkan pengiriman 20 alat pemadam kebakaran berupa pompa air, yang merupakan dua kali lipat dari sepuluh unit yang awalnya diminta oleh Pemerintah Provinsi Lampung. Bantuan darat sangat dibutuhkan, terutama untuk titik yang jauh dari kanal dan sumber air, mengingat kesulitan memperoleh air menjadi salah satu tantangan utama dalam operasi pemadaman.
Kementerian Kehutanan menjelaskan bahwa beberapa lokasi kebakaran memiliki medan bergambut, akses yang sulit, serta cukup jauh dari sumber air, sehingga petugas harus berjalan kaki untuk mencapai titik kebakaran.