SEMARANG -- Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Semarang, Rudi Cahyono, menyatakan bahwa pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di daerahnya masih menemui berbagai tantangan. Salah satu masalah utama adalah banyak warga yang enggan memberikan informasi mengenai pendapatan mereka karena khawatir akan berdampak pada peningkatan pajak.
Rudi menjelaskan bahwa data yang dikumpulkan dalam Sensus Ekonomi 2026 hanya untuk tujuan statistik. Namun, pertanyaan yang diajukan kepada responden mencakup informasi mengenai pendapatan, pengeluaran, dan pola konsumsi. "Sehingga masyarakat itu khawatir, 'oh ini pasti ada hubungannya dengan pajak'. Ini juga menjadi salah satu alasan untuk sejumlah masyarakat, mereka belum berkenan menerima petugas sensus karena khawatir pendataan ini ada kaitannya dengan pajak," ungkap Rudi saat diwawancarai pada Ahad (5/7/2026).
Kekhawatiran Warga Terhadap Pajak
Lebih lanjut, Rudi menyebutkan bahwa warga yang menolak untuk disensus merasa khawatir bahwa pendapatan mereka yang diketahui akan membuat mereka menjadi target untuk kenaikan pajak. "Nanti kan kalau pendapatannya diketahui, wah berarti nanti pasti jadi target untuk pajaknya dinaikkan," ujarnya.
Selain itu, Rudi juga menjelaskan bahwa saat ini masyarakat semakin menyadari pentingnya menjaga kerahasiaan dan keamanan data pribadi. Ketika diwawancarai oleh petugas sensus, banyak yang khawatir data yang dikumpulkan akan terpublikasi atau bocor. Menurut Rudi, permasalahan semacam ini menyebabkan target responden yang seharusnya tercapai dalam sensus belum berhasil. "Untuk dua pekan pertama, target kami 20 persen. Posisi itu kemarin baru di kisaran 16 persen yang statusnya sudah ter-submit," tuturnya.
Upaya BPS untuk Meningkatkan Partisipasi
Rudi mengungkapkan bahwa terdapat 1.437 petugas yang dilibatkan dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Kota Semarang. "Jadi sensus ini pendataan lengkap, baik itu usaha maupun keluarga. Kalau di Kota Semarang, target kami kurang lebih sekitar 900 ribu lebih usaha," jelas Rudi.
Untuk mengatasi kendala yang ada, BPS Kota Semarang melakukan beberapa langkah, termasuk meminta bantuan aparat pemerintahan di tingkat RT, RW, dan kelurahan untuk melakukan sosialisasi mengenai Sensus Ekonomi 2026 dan tujuannya. Diharapkan, personel Babinsa dan Bhabinkamtibmas juga dapat membantu dalam proses ini. "Kepada bapak/ibu warga Kota Semarang, saya berharap bapak/ibu berkenan menerima kunjungan petugas sensus. Bahwa data yang dikumpulkan ini semata-mata hanya untuk keperluan statistik. Dari data ini akan mencerminkan sebenarnya bagaimana kondisi ekonomi kita yang sesungguhnya," tutup Rudi.