Saturday, 27 June 2026
Peristiwa

Tanggapan Golkar atas Sindiran Politisi PDIP Terkait Krisis Listrik

Abdul Rahman Farisi dari Partai Golkar menanggapi kritik politisi PDIP, Deddy Sitorus, mengenai masalah kelistrikan, dengan menekankan pentingnya melihat konteks sejarah persoalan energi nasional.

P
Putri Ayunda Lestari
23 June 2026 21 pembaca
Foto: Erdy Nasrul/Republika
Foto: Erdy Nasrul/Republika

Abdul Rahman Farisi, Sekretaris Bidang Ekonomi dan Kebijakan Publik DPP Partai Golkar, memberikan tanggapan terhadap pernyataan Deddy Sitorus, politisi dari PDI Perjuangan, yang menyindir Partai Golkar mengenai isu kelistrikan. Ia menegaskan bahwa kritik tersebut perlu dilihat secara objektif dengan mempertimbangkan rekam jejak masalah energi di Indonesia secara keseluruhan.

Abdul Rahman mengingatkan bahwa Indonesia pernah menghadapi ancaman krisis pasokan batu bara untuk pembangkit listrik PLN pada tahun 2022, saat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dipimpin oleh Arifin Tasrif. Pada waktu itu, pemerintah mengakui bahwa pasokan batu bara untuk pembangkit listrik berada dalam kondisi kritis akibat rendahnya pemenuhan kewajiban pasokan domestik (Domestic Market Obligation/DMO) oleh sejumlah perusahaan tambang.

Kritik Terhadap Memori Politik

“Pak Deddy pernah membela Arifin Tasrif sebagai menteri yang direkomendasikan PDIP. Karena itu, Pak Dedy jangan amnesia politik. Lupa bahwa krisis batu bara PLN juga terjadi pada masa beliau,” ungkap Abdul Rahman pada Senin (22/6). Ia menekankan bahwa penting untuk mengingatkan publik bahwa masalah kelistrikan dan ketahanan energi bukanlah isu yang baru muncul, melainkan tantangan yang telah ada selama bertahun-tahun dan memerlukan solusi jangka panjang.

Ia juga menilai tidak adil jika setiap gangguan kelistrikan saat ini langsung disalahkan kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia atau Partai Golkar. Menurutnya, persoalan energi adalah isu yang kompleks dan melibatkan berbagai faktor, termasuk pasokan energi primer, infrastruktur, dan tata kelola sektor energi secara keseluruhan.

Pentingnya Konsistensi dalam Kritik

Abdul Rahman menyoroti sikap Deddy Sitorus yang pada saat pergantian Menteri ESDM tahun 2024 mempertanyakan secara terbuka pencopotan Arifin Tasrif, yang sebelumnya disebutnya sebagai sosok yang direkomendasikan oleh PDIP. Ia berpendapat bahwa jika Deddy ingin mengkritik kondisi energi saat ini, kritik tersebut seharusnya disampaikan dengan konsisten, mengingat tantangan serupa juga pernah terjadi pada masa menteri yang selama ini dibelanya.

“Bahkan kalau mau menghitung waktu, Pak Bahlil itu belum cukup 2 tahun menjabat Menteri ESDM dibandingkan kawannya Pak Deddy yang menjadi Menteri ESDM selama 4 tahun. Mestinya, lebih memiliki waktu dalam menyelesaikan kelistrikan yang terkait dengan pembangkit, jaringan, dan batu bara,” tambahnya.

Lebih lanjut, Abdul Rahman menekankan bahwa fokus utama Menteri Bahlil saat ini adalah membangun pembangkit baru bagi PLN dan menerangi ribuan desa yang belum mendapatkan layanan listrik. Visi Presiden Prabowo mengenai listrik merupakan program prioritas untuk mencapai swasembada dan ketahanan energi. “Masyarakat membutuhkan solusi, bukan saling menyalahkan. Yang terpenting adalah memastikan pasokan energi nasional tetap aman dan pelayanan listrik kepada masyarakat terus terjaga,” tutup Abdul Rahman.

// Artikel Terkait