Saturday, 31 October 2026
Peristiwa

Refleksi Kehidupan Susilo Bambang Yudhoyono dalam Novel Terbarunya

Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden ke-6 RI, merilis novel berjudul "Diana Memang Manja" yang menggambarkan pengalaman hidup dan refleksi pribadinya. Karya ini terinspirasi dari lagu legendaris Koes Pl...

Z
Zidan Alfarezi
31 October 2026 17 pembaca
Foto: istimewa
Foto: istimewa

Susilo Bambang Yudhoyono, yang menjabat sebagai Presiden ke-6 Republik Indonesia, menghadirkan pemikiran dan pengalaman hidupnya melalui novel berjudul "Diana Memang Manja". Karya ini terinspirasi dari ketertarikan Yudhoyono terhadap lagu klasik Koes Plus yang berjudul Diana, dan berkembang menjadi sebuah narasi mengenai kehidupan, kehilangan, serta emosi manusia.

Apresiasi dari Kalangan Seniman

Ingrid Kansil, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, memberikan apresiasi terhadap novel tersebut. Ia menyatakan bahwa karya Yudhoyono menunjukkan sisi lain dari seorang negarawan yang juga memiliki ruang untuk mengekspresikan diri melalui seni dan sastra. Ingrid merasa terhormat dapat menerima novel tersebut secara langsung dari Yudhoyono di Cikeas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, bersama 13 penerima lainnya yang sebagian besar berasal dari kalangan seniman. “Merupakan sebuah kehormatan bagi saya, bisa mendapat langsung novel Diana Memang Manja, dan membacanya,” ungkapnya dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta.

Sastra sebagai Sarana Pemahaman Manusia

Ingrid menegaskan bahwa membaca novel lebih dari sekadar mengikuti alur cerita atau mengenali karakter. Sastra berfungsi sebagai jendela untuk memahami manusia, termasuk emosi, hubungan antarindividu, pengalaman kehilangan, dan dinamika kehidupan. Ia menilai bahwa pendekatan ini menjadi salah satu daya tarik dalam novel "Diana Memang Manja". “Sebuah karya sastra dari Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, yang kita kenal sebagai seorang negarawan, tetapi juga memiliki banyak ruang ekspresi dan refleksi melalui karya tulis,” tambahnya.

Yudhoyono menjelaskan bahwa menulis novel adalah cara untuk menyalurkan minat seninya setelah sebelumnya terlibat dalam lukisan, puisi, dan musik. Ia merasakan bahwa novel memberikan keleluasaan untuk mengembangkan alur cerita, menciptakan adegan, serta menentukan karakter para tokoh. Ketertarikan Yudhoyono terhadap seni bukanlah hal baru; ia menganggap aktivitas berkesenian sebagai cara untuk kembali menekuni minat yang sempat ditinggalkan selama menjalani tugas di militer dan pemerintahan.

Dalam proses pengembangan "Diana Memang Manja", Yudhoyono melakukan riset, termasuk mencari sosok perempuan yang diyakininya terkait dengan lagu Koes Plus tersebut. Ia mengenal lagu itu sejak tahun 1973, saat masih menjadi taruna. Yudhoyono mengungkapkan bahwa ia menemukan sosok Diana di Wonosobo, Jawa Tengah, dan bertemu dengannya dalam sebuah pertemuan yang berlangsung sekitar lima jam. Dalam pertemuan itu, ia mendengarkan kisah hidup Diana, termasuk pengalaman kehilangan yang dialaminya, yang memiliki kedekatan emosional dengan pengalaman pribadinya setelah kehilangan istrinya, Ani Yudhoyono.

Yudhoyono mengungkapkan bahwa pengalaman Diana yang ditinggal suaminya mengingatkannya pada perasaannya ketika kehilangan Ani. Meskipun tidak semua cerita dalam novel tersebut merupakan pengalaman pribadinya, ia mengakui bahwa sebagian dari perasaannya setelah Ani meninggal dituangkan ke dalam cerita. “Itulah my own heart saya ungkapkan melalui novel itu, tentu dengan sebuah imajinasi yang saya tata sedemikian rupa,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa saat ini dirinya telah lebih kuat dalam menghadapi kehilangan tersebut.

Ingrid berharap novel "Diana Memang Manja" dapat menambah khazanah literasi di Indonesia dan mendorong masyarakat untuk terus membaca serta berkarya. “Semoga semakin memperkaya khazanah literasi Indonesia dan menginspirasi generasi untuk terus membaca, berpikir, serta berkarya,” tutupnya.

// Artikel Terkait