Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan bahwa blokade angkatan laut yang diterapkan oleh Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan gagal dan memperburuk situasi di kawasan Teluk. Dalam pernyataannya, Pezeshkian menegaskan bahwa setiap upaya untuk memberlakukan pembatasan maritim bertentangan dengan hukum internasional dan tidak akan mencapai tujuannya.
Menurut Pezeshkian, tindakan blokade tersebut tidak hanya akan gagal dalam meningkatkan keamanan regional, tetapi juga akan menjadi sumber ketegangan yang mengganggu stabilitas di Teluk Persia. Blokade angkatan laut oleh AS dimulai pada 13 April, beberapa hari setelah gencatan senjata yang menghentikan konflik dengan Iran. Militer Iran juga telah menutup Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting untuk pengiriman minyak dan gas global.
Iran baru-baru ini mengeluarkan ancaman untuk merespons jika blokade AS terus berlanjut. Penasihat militer pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, mengulangi peringatan tersebut tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Mantan panglima tertinggi Garda Revolusi Iran, Mohsen Rezaei, yang kini menjabat sebagai penasihat militer, menyatakan bahwa jika blokade berlanjut, Iran akan mengambil tindakan balasan, termasuk kemungkinan menenggelamkan kapal-kapal AS.
Menteri Perminyakan Iran, Mohsen Paknejad, juga menyatakan bahwa AS tidak akan mendapatkan hasil dari blokade tersebut dan menepis kekhawatiran mengenai pasokan minyak. Ia menegaskan bahwa para pekerja di industri minyak bekerja keras untuk memastikan pasokan tetap terjaga.
Situasi ini menunjukkan ketegangan yang meningkat antara Iran dan Amerika Serikat, dengan ancaman dari kedua belah pihak yang dapat berpotensi memicu konflik lebih lanjut di kawasan tersebut.