Kematian Yai Mim, seorang mantan dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, telah menarik perhatian masyarakat dan media. Polisi, setelah melakukan penyelidikan mendalam, mengungkap bahwa kematian yang terjadi pada 10 Agustus 2023 ini diduga akibat bunuh diri. Penemuan ini membangkitkan pertanyaan tentang kondisi mental dan faktor-faktor yang mungkin berkontribusi terhadap keputusan tragis tersebut.
Penyelidikan polisi mengungkapkan bahwa sebelum kematiannya, Yai Mim mengalami tekanan yang cukup berat. “Kami menemukan sejumlah catatan yang menunjukkan bahwa ia berjuang dengan masalah pribadi dan emosional,” ungkap Kapolsek setempat, yang turut membawa tim dokter untuk membantu analisis keadaan psikologis Yai Mim. Penemuan catatan itu menjadi petunjuk krusial dalam pengungkapan kasus ini.
Rekan kerja dan mahasiswa Yai Mim menyatakan bahwa mereka tidak menyangka akan keputusan tersebut. “Beliau adalah sosok yang inspiratif dan selalu memberikan dukungan kepada kami,” kata salah seorang mahasiswa, menambahkan bahwa Yai Mim sering berbagi pengalaman hidup yang menginspirasi. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ia terlihat kuat di depan, ada kemungkinan besar ia menyimpan beban emosional yang berat.
Polisi juga meneliti interaksi Yai Mim dengan orang-orang terdekatnya. Melalui penyelidikan itu, terkuak bahwa selama beberapa bulan sebelum kejadian, Yai Mim terlihat lebih tertutup dan jarang berkomunikasi dengan kolega dan keluarganya. “Kami memang mencatat adanya perubahan perilaku yang cukup signifikan pada dirinya,” ujar seorang rekannya. “Namun, kami semua berpikir itu hanya fase yang akan segera berlalu.”
Penanganan kasus ini tidak hanya menyangkut penyebab kematian, tetapi juga membuka diskusi yang lebih luas tentang kesehatan mental di kalangan akademisi. Situasi seperti ini seharusnya menjadi perhatian lebih bagi institusi pendidikan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kesejahteraan mental para dosen dan mahasiswa.
Dalam penutup laporan, pihak kepolisian menyatakan bahwa mereka akan terus melakukan pemantauan dan memberikan dukungan bagi keluarga yang ditinggalkan. “Kami berharap kejadian ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih peka terhadap kesehatan mental,” tegas Kapolsek. Selanjutnya, keluarga Yai Mim berencana akan menggelar doa bersama untuk mendoakan arwah almarhum, serta memfasilitasi dialog terbuka mengenai kesehatan mental di lingkungan kampus.