Mayor Jenderal (Purn) Itzhak Brik dari Israel memberikan peringatan serius mengenai kondisi negara yang tengah menghadapi kemungkinan kehancuran yang tidak dapat diperbaiki. Ia menilai bahwa Israel mengalami keruntuhan di semua lini, termasuk sektor militer, ekonomi, dan lembaga negara. Peringatan ini disampaikan dalam sebuah artikel opini yang diterbitkan oleh harian Maariv pada hari Minggu.
Brik berpendapat bahwa Israel telah kehilangan legitimasi di mata internasional dan dukungan dari sekutu-sekutunya, serta tidak akan mampu bertahan dalam keadaan terisolasi yang berkepanjangan. Ia menggambarkan situasi ini bukan sekadar krisis politik, melainkan sebagai keruntuhan menyeluruh. Menurutnya, hasil pemilihan parlemen yang berlangsung pada hari Selasa lalu dapat dianggap sebagai 'surat kematian resmi Negara Israel'.
Kritik terhadap Fokus Media
Brik juga mengkritik para komentator di media yang lebih memperhatikan jumlah kursi dan negosiasi koalisi, sementara masalah yang lebih mendalam di tingkat nasional diabaikan. Ia menggambarkan liputan tersebut ibarat orkestra yang terus bermain di atas kapal Titanic yang sedang tenggelam.
Sebagai mantan komandan akademi militer dan ombudsman untuk pengaduan tentara di Kementerian Pertahanan, Brik menegaskan bahwa Israel kini menjadi negara yang terasing secara internasional. Ia menyatakan, βKita telah kehilangan legitimasi dan sekutu,β dan memperingatkan bahwa negara tersebut tidak akan mampu bertahan dalam isolasi total untuk waktu yang lama.
Kelemahan Militer yang Meningkat
Lebih lanjut, Brik menjelaskan bahwa pasukan darat Israel mengalami kelemahan struktural dan penurunan moral. Ia mencatat bahwa para tentara tidak lagi memiliki kemampuan untuk melindungi Israel dari ancaman yang datang bersamaan, baik dari dalam maupun luar perbatasan. Ia memperingatkan bahwa militer yang kelelahan akan kesulitan menghadapi serangan besar atau melindungi warga sipil dalam konflik regional yang lebih luas.
Dalam konteks ini, Brik menekankan perlunya penanganan yang serius terhadap kondisi yang dihadapi Israel agar tidak terjerumus lebih dalam ke dalam kehancuran.