JAKARTA, iNews.id - Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) di sekolah semakin meluas. Hal ini mendorong para pendidik untuk tidak hanya berfungsi sebagai pengguna teknologi, tetapi juga untuk memiliki kemampuan kritis dalam memilih, mengevaluasi, dan memanfaatkan AI dalam proses pembelajaran.
Pentingnya Keterlibatan Guru dalam Penggunaan AI
Dalam laporan terbaru berjudul "Shaping AI Policy and Practice in English Language Teaching" yang diterbitkan oleh Cambridge University Press & Assessment, ditekankan pentingnya peran guru dalam menghadapi perkembangan generative AI (GenAI) di dunia pendidikan. Banyak pendidik di berbagai negara telah mencoba mengintegrasikan AI dalam pembelajaran, namun sering kali tanpa panduan yang jelas. Oleh karena itu, dukungan dan pembelajaran profesional yang berkelanjutan sangat diperlukan.
Para guru perlu memahami cara kerja teknologi AI, termasuk kelebihan dan keterbatasannya. Dengan pengetahuan ini, mereka dapat menentukan kapan AI dapat membantu dalam proses belajar dan kapan teknologi tersebut tidak tepat untuk digunakan. Selain itu, kemampuan untuk mengevaluasi hasil keluaran AI secara kritis juga menjadi sangat penting, mengingat informasi yang dihasilkan tidak selalu akurat dan dapat mengandung bias.
AI sebagai Alat Bantu Belajar yang Bertanggung Jawab
Peran guru juga sangat krusial dalam mengajarkan siswa untuk menggunakan AI dengan cara yang bertanggung jawab. Siswa perlu dibiasakan untuk memeriksa informasi yang diberikan oleh AI, mempertanyakan hasil yang diperoleh, serta memahami bahwa teknologi ini seharusnya berfungsi sebagai alat bantu belajar, bukan sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan tugas.
Cambridge merekomendasikan agar guru dilibatkan dalam setiap tahap penggunaan AI di sekolah, mulai dari perancangan kebijakan, pemilihan perangkat, penerapan di kelas, hingga evaluasi. Para pendidik juga perlu diberikan ruang untuk menggunakan penilaian profesional dalam menentukan teknologi yang paling sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Dr. Evelina Galaczi, Direktur Penelitian Bahasa Inggris di Cambridge University Press & Assessment, menyatakan bahwa perkembangan teknologi AI berlangsung dengan sangat cepat, sehingga kebijakan pendidikan perlu beradaptasi dengan perubahan tersebut. "Kebijakan sering kali kesulitan mengikuti pesatnya perkembangan teknologi, sementara guru dituntut untuk terus beradaptasi. Kondisi ini telah menciptakan kesenjangan pengetahuan dan pendekatan yang tidak konsisten dalam pendidikan dan adopsi AI," ujarnya.
Evelina juga menambahkan bahwa para guru di berbagai negara berkontribusi dalam membangun pengetahuan praktis mengenai penerapan AI yang bertanggung jawab di dalam kelas. "Guru yang telah berhasil bereksperimen dengan AI di ruang kelas mereka memprioritaskan pertimbangan profesional, praktik pembelajaran yang berpusat pada manusia, serta literasi AI yang kritis," katanya.
Oleh karena itu, penggunaan AI di sekolah tidak cukup hanya dengan menyediakan perangkat teknologi. Penguatan kemampuan guru, literasi AI bagi siswa, perlindungan data, etika penggunaan teknologi, serta akses yang adil juga harus menjadi bagian dari kebijakan pendidikan. Dengan pendekatan ini, diharapkan AI dapat mendukung proses pengajaran dan pembelajaran tanpa mengurangi peran guru dalam membimbing siswa untuk berpikir kritis dan mandiri.