Saturday, 10 October 2026
Teknologi

Peningkatan Penipuan Berbasis AI Mendorong Kebutuhan Teknologi Keamanan Siber yang Lebih Baik

Kemajuan kecerdasan buatan (AI) membawa tantangan baru dalam bentuk penipuan digital yang semakin canggih, sehingga perlindungan data pribadi dan identitas pengguna internet menjadi sangat penting.

Z
Zidan Alfarezi
10 October 2026 6 pembaca
Advertisement
Advertisement
inews.id Sumber: inews.id

JAKARTA - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) tidak hanya memberikan kemudahan dalam aktivitas digital, tetapi juga dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk melancarkan penipuan yang semakin meyakinkan. Hal ini membuat perlindungan terhadap data pribadi, identitas, dan privasi pengguna internet menjadi sangat krusial.

Data dari Global Anti Scam Alliance menunjukkan bahwa 66 persen orang dewasa di Indonesia telah mengalami penipuan dalam satu tahun terakhir. Ancaman serupa juga terjadi di seluruh dunia, di mana survei terhadap 7.000 konsumen mengungkapkan bahwa satu dari tujuh responden menjadi korban penipuan dalam periode yang sama.

Titik Rawan dalam Aktivitas Digital

Perangkat mobile menjadi salah satu titik rawan dalam aktivitas digital. Survei tersebut juga mengungkapkan bahwa 48 persen responden tidak menggunakan solusi keamanan dari pihak ketiga pada ponsel mereka. Meskipun demikian, 53 persen di antara mereka menggunakan perangkat tersebut untuk aktivitas sensitif, seperti membayar tagihan dan berbelanja online.

Seiring dengan kemajuan teknologi, pelaku kejahatan siber memanfaatkan AI untuk menciptakan pesan, identitas, dan skenario penipuan yang lebih sulit dikenali. Metode rekayasa sosial atau social engineering juga digunakan untuk memanipulasi korban agar memberikan informasi pribadi, mengakses tautan berbahaya, atau melakukan transaksi tertentu. Selain itu, ancaman seperti penyebaran malware, phishing, pencurian identitas, dan penyalahgunaan teknologi deepfake menjadi tantangan dalam menjaga keamanan di ruang digital.

Kerja Sama untuk Meningkatkan Keamanan Digital

Menanggapi perkembangan ancaman ini, perusahaan keamanan siber Bitdefender menjalin kerja sama distribusi dengan Gema Informatika Abadi (PT GIA) untuk memperluas akses terhadap teknologi perlindungan digital bagi konsumen di Indonesia. Kerja sama ini mencakup distribusi berbagai solusi keamanan untuk komputer dan perangkat mobile, perlindungan identitas dan privasi, teknologi antipenipuan, serta pendeteksi deepfake.

Cakupan teknologi ini mencerminkan berbagai pendekatan yang digunakan dalam perlindungan digital. Keamanan perangkat berfungsi untuk mendeteksi dan mencegah ancaman seperti malware, sementara perlindungan terhadap phishing membantu mengenali upaya pencurian informasi melalui situs atau pesan palsu. Teknologi perlindungan identitas dan privasi bertujuan untuk mengurangi risiko penyalahgunaan informasi pribadi, sedangkan teknologi pendeteksi deepfake dikembangkan untuk membantu mengidentifikasi konten sintetis yang dibuat menggunakan AI dan berpotensi digunakan dalam penipuan.

Ciprian Istrate, Senior Vice President of Operations Bitdefender Consumer Solutions Group, menyatakan bahwa AI telah dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk meningkatkan skala dan meyakinkan target dalam menjalankan aksinya. “Pelaku kejahatan siber menggunakan AI untuk menjalankan kampanye penipuan yang meyakinkan dalam skala besar serta menyebarkan malware, sehingga konsumen menghadapi risiko yang semakin besar,” ungkap Ciprian.

Direktur PT GIA, Chok, menekankan bahwa meningkatnya aktivitas perbankan, belanja, dan komunikasi melalui internet membuat perlindungan terhadap data pribadi dan identitas semakin diperlukan. Ia menambahkan bahwa kerja sama ini bertujuan untuk memperluas akses masyarakat terhadap teknologi keamanan siber untuk menghadapi ancaman digital yang terus berkembang.

“Di tengah meningkatnya risiko kejahatan siber, penggunaan perangkat lunak keamanan perlu diimbangi dengan kebiasaan digital yang aman. Pengguna disarankan untuk mengaktifkan autentikasi multifaktor, memperbarui sistem operasi dan aplikasi, menggunakan kata sandi yang kuat, serta memeriksa keaslian tautan dan identitas pengirim sebelum memberikan informasi pribadi,” jelasnya.

Pengguna juga perlu waspada terhadap pesan atau panggilan yang mendesak untuk melakukan transfer uang, membagikan kode OTP, atau mengirimkan data sensitif. Konten audio dan video yang tampak meyakinkan harus diverifikasi melalui saluran komunikasi lain, terutama jika berkaitan dengan permintaan uang atau informasi rahasia. Kombinasi antara teknologi keamanan dan kewaspadaan pengguna menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko penipuan di tengah perkembangan AI dan semakin luasnya aktivitas masyarakat di ruang digital.

// Artikel Terkait