Friday, 10 July 2026
Olahraga

Penghapusan Bulu Tangkis dari Commonwealth Games 2026: Sebuah Kehilangan Besar bagi Malaysia

Bulu tangkis, yang telah menjadi andalan Malaysia di Commonwealth Games, akan dihapus dari program Glasgow 2026, menandai perubahan signifikan dalam sejarah olahraga negara tersebut.

D
Doni Setiawan
09 July 2026 9 pembaca
Tim Malaysia/[Foto:NST]
Tim Malaysia/[Foto:NST]

Setiap negara memiliki cabang olahraga yang menjadi bagian dari identitasnya. Jamaika dikenal dengan lari cepat, Selandia Baru dengan rugby, dan India dengan kriket. Sementara itu, bagi Malaysia, bulu tangkis telah menjadi olahraga yang menonjol, terutama dalam konteks Commonwealth Games.

Selama hampir enam dekade, bulu tangkis telah berkontribusi besar terhadap perolehan medali Malaysia di Commonwealth Games, dengan 31 medali emas yang diraih hingga saat ini. Olahraga ini telah menjadi pilar utama dalam setiap upaya meraih medali, sebelum perhatian beralih ke cabang olahraga lain seperti angkat besi, lawn bowls, menyelam, dan squash. Namun, situasi ini akan berubah pada Commonwealth Games Glasgow 2026, karena bulu tangkis akan dihapus dari daftar cabang olahraga untuk pertama kalinya dalam sejarah Malaysia.

Dampak Besar dari Penghapusan

Penghapusan bulu tangkis bukan hanya sekadar kehilangan kesempatan untuk meraih medali, tetapi juga menghilangkan olahraga yang telah menjadi tulang punggung bagi Malaysia dalam kompetisi tersebut. Saking pentingnya bulu tangkis, Dewan Olimpiade Malaysia (OCM) bahkan mengusulkan untuk mengadakan kompetisi bulu tangkis secara terpisah di Kuala Lumpur demi menjaga keberadaan olahraga ini dalam program Glasgow 2026. Namun, proposal tersebut tidak terwujud.

Untuk memahami betapa signifikan kehilangan ini, kita perlu menelusuri sejarah panjang Malaysia dalam bulu tangkis. Dari era Tan Aik Huang dan almarhum Punch Gunalan, hingga saudara-saudara Sidek dan Datuk Seri Lee Chong Wei, bulu tangkis telah menjadi arena di mana rakyat Malaysia merayakan momen-momen bersejarah di Commonwealth Games. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa bulu tangkis telah menjadi bagian integral dari identitas Malaysia dalam ajang ini.

Menatap Masa Depan Tanpa Bulu Tangkis

Dampak dari absennya bulu tangkis melampaui sekadar perolehan medali. Selama bertahun-tahun, olahraga ini telah memberikan rasa percaya diri yang tak ternilai bagi kontingen Malaysia di setiap ajang Commonwealth Games. Setiap kampanye dimulai dengan harapan untuk meraih medali emas dari bulu tangkis, dan keberhasilan awal sering kali menjadi pemicu semangat bagi atlet dari cabang olahraga lain untuk meningkatkan performa mereka.

Tanpa inspirasi yang selama ini ada, tim Malaysia kini harus mencari cara baru untuk mengisi kekosongan tersebut. Selain itu, absennya bulu tangkis juga memunculkan pertanyaan lebih luas mengenai ketergantungan Malaysia pada sejumlah cabang olahraga tradisional untuk meraih kesuksesan di tingkat internasional. Pertanyaan ini bukanlah hal baru, karena sering muncul ketika Malaysia mengalami penampilan yang kurang memuaskan di ajang multi-olahraga besar.

Glasgow 2026 bisa menjadi momen penting untuk melihat apakah cabang olahraga lain siap untuk bersinar tanpa bayang-bayang bulu tangkis. Jika Malaysia tetap kompetitif, hal ini menandakan bahwa upaya untuk memperluas basis olahraga di negara tersebut mulai membuahkan hasil. Namun, jika kesenjangan terlalu besar, mungkin diperlukan lebih banyak usaha untuk mengurangi ketergantungan pada beberapa cabang olahraga tradisional yang selama ini mendominasi.

Bagi beberapa atlet, Glasgow 2026 juga bisa menjadi kesempatan terbaik dalam karier mereka untuk tampil sebagai wajah baru olahraga Malaysia, mengingat bulu tangkis tidak lagi menjadi fokus utama. Ketika ajang Commonwealth Games berakhir, pertanyaan yang paling penting bukan hanya berapa banyak medali yang diraih Malaysia, tetapi apakah negara tersebut telah menemukan pilar-pilar baru untuk mendukung ambisi di ajang Commonwealth.

Commonwealth Games Glasgow akan berlangsung dari 23 Juli hingga 2 Agustus, dengan Malaysia diwakili oleh 59 atlet, termasuk atlet paralimpik, yang akan berkompetisi dalam delapan dari sepuluh cabang olahraga dalam program tersebut, serta enam cabang olahraga paralimpik terintegrasi. Pada Birmingham 2022, Malaysia meraih tujuh medali emas, delapan perak, dan delapan perunggu. Namun, tantangan kali ini diperkirakan akan lebih berat, mengingat empat dari tujuh medali emas tersebut berasal dari cabang olahraga yang tidak lagi ada dalam program Glasgow.

Satu hal yang pasti, untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, Malaysia akan menghadapi Commonwealth Games tanpa cabang olahraga yang telah memberikan kesuksesan terbesar bagi negara tersebut. Ketidakhadiran 'raja' bulu tangkis ini mungkin akan membuka jalan bagi munculnya generasi pahlawan baru di Glasgow 2026.

// Artikel Terkait