Friday, 10 July 2026
Olahraga

Membangun Kepercayaan Diri Melalui Bulu Tangkis di Hari Bulu Tangkis Dunia

Hari Bulu Tangkis Sedunia dirayakan dengan kegiatan yang melibatkan anak-anak di Malaysia, memberikan mereka kesempatan untuk belajar dan bersenang-senang melalui olahraga bulu tangkis.

D
Daniel Saputra
09 July 2026 18 pembaca
Bulu Tangkis/[Foto:BWF]
Bulu Tangkis/[Foto:BWF]

Bagi banyak anak, bulu tangkis dimulai dengan pengenalan yang sederhana terhadap olahraga ini, memberikan mereka kesempatan untuk memegang raket, mempelajari hal baru, dan menikmati aktivitas bersama. Hal ini menjadi fokus dari Badan Bulu Tangkis Dunia (BWF) dalam sebuah acara di Universitas Manajemen dan Teknologi Tunku Abdul Rahman (TARUMT) di Malaysia, di mana 71 anak berpartisipasi dalam kegiatan belajar dan bermain pada tanggal 27 Juni 2026, menjelang perayaan Hari Bulu Tangkis Sedunia.

Acara ini didukung oleh pelatih dan sukarelawan bersertifikat dari program Shuttle Time, yang memperkenalkan dasar-dasar bulu tangkis kepada anak-anak dari berbagai panti asuhan dalam suasana yang ramah dan mendukung. Meskipun beberapa peserta memiliki pengalaman sebelumnya, bagi banyak dari mereka, ini adalah pengalaman pertama yang berarti dalam olahraga ini.

Pengalaman Pertama yang Berharga

Kegiatan ini dipimpin oleh Kingsley Mah Wei Yi, yang bertanggung jawab atas koordinasi lapangan, pengaturan pemimpin stasiun, serta memberikan pengarahan kepada pengasuh dan peserta mengenai prosedur keselamatan dan program hari itu. Meskipun Mah menganggap dirinya sebagai pemain rekreasi yang berhenti bermain secara teratur setelah mengalami cedera di masa sekolah, semangatnya terhadap bulu tangkis tetap tinggi. Menjadi sukarelawan memberinya kesempatan untuk berbagi kecintaannya terhadap olahraga ini.

“Setiap kali saya melihat wajah-wajah bahagia mereka, saya merasa lega. Itu sebenarnya mengingatkan saya pada kecintaan saya pada bulu tangkis ketika saya masih muda,” ungkapnya.

Ng Shue Er, yang berperan sebagai pemimpin kelompok, juga terlibat langsung dengan anak-anak melalui berbagai kegiatan dan latihan berbasis keterampilan. Sebagai mantan pemain tingkat sekolah, ini adalah kali kedua ia menjadi sukarelawan di Shuttle Time dan merasa lebih nyaman dalam membimbing anak-anak. “Saat mereka beralih dari tidak tahu cara melakukan sesuatu menjadi mengerti dan menikmatinya, itu adalah momen terbaik bagi saya,” katanya.

Belajar dan Bermain dengan Senang Hati

Selama program berlangsung, peserta mempelajari dasar-dasar penting bulu tangkis, termasuk cara memegang raket, servis, dan teknik pukulan dasar. Sesi-sesi tersebut menggabungkan demonstrasi, aktivitas latihan, dan permainan untuk menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak-anak dengan berbagai kemampuan. Namun, bagi para pelatih, hasil yang paling berarti adalah melihat kepercayaan diri anak-anak tumbuh seiring mereka semakin mengenal olahraga tersebut.

Ng mengamati perubahan yang signifikan sepanjang hari tersebut. “Di pagi hari, sebagian dari mereka cukup pendiam dan tidak terlalu bersemangat. Saat mereka mulai bermain dan lebih terlibat, mereka menjadi lebih aktif dan nyaman di lingkungan tersebut,” jelasnya.

Salah satu peserta, Rini, yang berusia 18 tahun, menyatakan, “Bulutangkis membuat saya merasa luar biasa. Olahraga ini memberi orang kesempatan tidak hanya untuk bermain bersama tetapi juga untuk mempererat ikatan satu sama lain.” Kegiatan ini juga menyoroti manfaat olahraga yang lebih luas, di mana anak-anak didorong untuk berkomunikasi, saling mendukung, dan menantang diri mereka sendiri dalam suasana yang positif.

Mah menambahkan, “Tidak semua orang sempurna, terutama anak-anak. Mereka selalu belajar, jadi lebih baik melakukan semuanya perlahan dan membangun secara bertahap. Cobalah untuk tidak terlalu memaksa anak-anak.” Komentar ini mencerminkan filosofi kepelatihan yang berfokus pada kesabaran dan dorongan, terutama ketika bekerja dengan peserta muda yang masih dalam tahap perkembangan fisik dan emosional.

// Artikel Terkait