Thursday, 10 September 2026
Peristiwa

Langkah Pemprov DKI Jakarta dalam Menghadapi Abu Vulkanik Anak Krakatau Dapat Apresiasi

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengambil berbagai tindakan untuk melindungi warga dari dampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau, termasuk menerapkan pembelajaran jarak jauh dan operasi water m...

I
Ilham Fadli Akbar
10 September 2026 10 pembaca
Foto: Republika/Thoudy Badai
Foto: Republika/Thoudy Badai

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melaksanakan serangkaian tindakan untuk melindungi masyarakat setelah terdeteksinya abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang mencapai ibu kota. Tindakan tersebut meliputi pembelajaran jarak jauh (PJJ), operasi water mist, pembagian masker, serta pemantauan kualitas udara yang dilakukan secara bersamaan sejak akhir pekan lalu.

Respons Positif dari DPRD DKI Jakarta

Kebijakan yang diambil oleh Pemprov DKI Jakarta ini mendapatkan apresiasi dari DPRD DKI Jakarta. Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Wibi Andriano, menilai bahwa pemerintah daerah telah bergerak cepat tanpa menunggu dampak dari abu vulkanik semakin dirasakan oleh masyarakat. "Saya mengapresiasi respons cepat Pemprov DKI. Dalam situasi seperti ini, prinsipnya sederhana, jangan tunggu warga terdampak, pemerintah harus hadir lebih dulu," ungkap Wibi pada Senin.

Pemprov DKI mulai meningkatkan upaya mitigasi pada Ahad (6/9/2026), setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebaran abu vulkanik yang mencapai beberapa wilayah Jakarta. Gunung Anak Krakatau sendiri saat ini berada pada Level III atau Siaga.

PJJ Diperpanjang untuk Keamanan Siswa

Salah satu kebijakan yang langsung diterapkan adalah PJJ untuk semua satuan pendidikan, yang dimulai pada Senin (7/9/2026). Kebijakan ini kemudian diperpanjang satu hari hingga Selasa (8/9/2026) karena masih adanya abu vulkanik di beberapa wilayah. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan bahwa perpanjangan dilakukan meskipun kondisi udara Jakarta menunjukkan perbaikan. "Abu vulkaniknya sudah mengalami penurunan yang luar biasa. Tetapi di beberapa daerah masih ada, dan kami masih memerlukan waktu satu hari untuk memperpanjang PJJ ini sampai dengan besok," jelas Pramono di Balai Kota Jakarta.

Setelah kondisi dinilai membaik, kegiatan belajar mengajar secara tatap muka akan dilanjutkan pada Rabu (9/9). Dengan demikian, PJJ diberlakukan selama dua hari sebagai langkah antisipasi saat risiko paparan masih perlu diwaspadai. Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta, Farah Savira, menilai langkah tersebut sangat tepat karena pada awal kejadian, tingkat dan durasi paparan abu vulkanik belum dapat dipastikan. "Langkah untuk mengambil pembelajaran jarak jauh itu sangat tepat karena paparannya belum kita tahu seberapa parah dan seberapa lama," kata Farah.

Operasi Water Mist untuk Menjaga Kualitas Udara

Selain membatasi aktivitas pelajar di luar rumah, Pemprov DKI juga melaksanakan operasi water mist secara serentak di lima wilayah Jakarta sejak Ahad. Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) mengoperasikan 14 unit di tujuh titik dengan dukungan 70 personel. Dinas Lingkungan Hidup juga mengerahkan satu unit water mist mobile serta dua tangki air, sementara Dinas Pertamanan dan Hutan Kota menerjunkan 77 tangki dengan 144 personel. Penyemprotan dilakukan di sejumlah koridor utama, seperti kawasan Monas, Jalan MH Thamrin-Jenderal Sudirman, Yos Sudarso, Gunung Sahari, Rasuna Said, MT Haryono, Slipi, dan Tomang.

Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Uus Kuswanto, menjelaskan bahwa operasi ini bertujuan untuk menekan debu dan partikulat serta menjaga kualitas udara di area aktivitas masyarakat. "Water mist ini merupakan langkah preventif untuk membantu mengendalikan debu atau partikulat yang ada di udara, sekaligus menjaga kualitas udara di ruang-ruang aktivitas masyarakat," ujarnya.

// Artikel Terkait