Di SMKN 6 Semarang, sebanyak 707 siswa dan guru mengalami keracunan yang diduga akibat mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Mochamad Abdul Hakam, menyatakan bahwa dugaan sementara penyebab keracunan tersebut adalah waktu memasak menu MBG yang terlalu awal.
Penyebab Keracunan yang Diduga Terkait dengan Waktu Memasak
Hakam menjelaskan bahwa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangturi tidak hanya menyediakan MBG untuk SMKN 6, tetapi juga untuk sekolah-sekolah lain, termasuk PAUD dan SD. “Tapi Alhamdulillah yang lainnya enggak (mengalami kasus dugaan keracunan). Karena yang dimasak jam 9 malam itu dilalah yang diberikan di SMKN 6,” ujarnya.
Standar Operasional Prosedur yang Tidak Dipenuhi
Meski demikian, Hakam mengakui bahwa SPPG Karangturi tidak mematuhi banyak standar operasional prosedur (SOP) dalam pengolahan MBG. “Jadi bisa dikatakan secara garis besar dari 19 SOP atau SPO yang harus ditaati oleh SPPG, cuman ada tiga yang terpenuhi,” jelasnya. Tiga SOP yang dipatuhi berkaitan dengan bahan baku dan distribusi MBG, sementara aspek lainnya tidak terpenuhi. Meskipun demikian, SPPG Karangturi telah memiliki sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS).
Proses pengujian sampel dari menu MBG yang diduga menjadi penyebab keracunan masih berlangsung, dengan hasil yang diperkirakan akan diketahui dalam satu hingga dua pekan ke depan. “Sampel yang diambil antara lain rendang, daun singkong, tahu, kemudian telur puyuh,” tambah Hakam.
Petugas medis juga melakukan anamnesis terhadap siswa dan guru yang mengalami gejala keracunan seperti mual dan muntah, untuk mengetahui jenis lauk yang bermasalah. “Ketemunya itu kurang lebih 49 persennya itu ada masakan rendang, ada di telur 40 sekian persen, sisanya yang di daun singkong,” ungkap Hakam.
Saat ini, dari 707 siswa dan guru yang diduga keracunan, enam di antaranya masih menjalani perawatan di rumah sakit. “Sampai hari ini masih ada enam yang dirawat, di Rumah Sakit Wongsonegoro, Rumah Sakit Pantiwilasa Citarum, sama di puskesmas,” kata Hakam saat diwawancara di kantornya.