Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tetap berfokus pada penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di enam provinsi di Kalimantan dan Sumatra. Selain itu, BNPB juga menangani karhutla yang melanda wilayah Papua.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 35 titik panas (hotspot) dan delapan titik api (firespot) di Papua. Luas lahan yang terindikasi terbakar mencapai 2.496 hektare dengan jarak pandang antara 5 hingga 9 kilometer.
Upaya Penanganan Kebakaran
Berton menjelaskan bahwa berbagai upaya dilakukan, termasuk pengiriman alat pemadaman dan pemantauan oleh tim di lapangan. "Tentu upaya-upaya yang dilakukan adalah upaya satgas darat terus bekerja dan melakukan pemantauan maupun pemadaman dengan alat-alat yang sudah dikirimkan sebelumnya tentu dan juga dengan water bombing dengan 1 unit helikopter Super Puma," ujarnya dalam konferensi pers secara daring.
Menurutnya, kebakaran hutan ini terjadi di sekitar objek vital nasional, termasuk area operasi KKKS BP Berau Ltd dan KKKS Genting Oil Kalsuri Ltd. Akibatnya, pengoperasian Kilang LGN Tangguh di wilayah kerja Berau terpaksa dihentikan, dan konstruksi fasilitas produksi di lapangan AKM wilayah kerja Kalsuri juga terpengaruh.
Penggunaan Helikopter untuk Pemadaman
Berton menambahkan bahwa BNPB telah melakukan dua sorti penerbangan untuk menjatuhkan air sebanyak 360.000 liter. Operasi pemadaman di Papua dilakukan dengan menggunakan satu helikopter yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Helikopter tersebut akan fokus menangani kebakaran di wilayah Tofoi, Teluk Bintuni, dan area lain di Papua Barat.
"Selain itu, kami perlu menyampaikan bahwa helikopter dari PT Berau LTD dengan Super Puma juga telah tiba dan melaksanakan water bombing sebanyak dua kali. Selain itu, helikopter BNPB Berau di tipe kamum juga telah tiba dan beroperasi besok hari untuk di Papua," tutupnya.