Tuesday, 11 August 2026
Hukum & Kriminal

Kasus Kematian Sutrimo: Keluarga Ungkap Perjalanan Pulang ke Jakarta

Keluarga Sutrimo, seorang Kepala Rumah Tangga eks Jampidsus, mengungkapkan perjalanan pulangnya ke Jakarta sebelum ditemukan tewas di sebuah klinik. Mereka mencurigai adanya keterlibatan dua orang yan...

M
Maria Angelica
11 August 2026 1 pembaca
Garis polisi melintang di Klinik Mordent, Kebayoran Baru, Jaksel yang jadi TKP temuan jenazah pria bernama Sutrimo. (dok. istimewa)
Garis polisi melintang di Klinik Mordent, Kebayoran Baru, Jaksel yang jadi TKP temuan jenazah pria bernama Sutrimo. (dok. istimewa)

Kepolisian tengah melakukan serangkaian penyelidikan terkait kasus kematian Sutrimo, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Rumah Tangga eks Jampidsus, Febrie Adriansyah. Sutrimo ditemukan meninggal dengan kondisi mulut berbusa di sebuah klinik di Jakarta Selatan. Sebelum kejadian tersebut, ia sempat pulang ke kampung halamannya di Banyumas, Jawa Tengah, dan diduga sudah dipersiapkan tiket untuk kembali ke Jakarta, diiringi oleh dua orang.

Kuasa hukum keluarga Sutrimo, Aan Rohaeni, mengungkapkan informasi ini melalui telepon pada Senin (10/8). Ia menjelaskan bahwa Sutrimo pulang ke Banyumas setelah penggeledahan rumah Febrie oleh tim gabungan kepolisian pada 8 Juli lalu. "Dia pulang pada saat sehari setelah penggeledahan. Emang disuruh pulang sama bosnya (Febrie Adriansyah) katanya," ungkap Aan.

Panggilan untuk Kembali ke Jakarta

Selama berada di Banyumas, Aan menyatakan bahwa Febrie sempat menghubungi Sutrimo dan meminta agar ia kembali ke Jakarta. Sutrimo mengeluhkan tidak memiliki uang untuk membeli tiket, namun Febrie menjawab bahwa tiket sudah disiapkan dan uang telah ditransfer. Sutrimo juga diinformasikan akan ditemani dua orang dari Stasiun Purwokerto, Jawa Tengah. "Nah dia pulang memang ditelepon sama Pak Febrie. Pengakuan dari salah satu saksi, bosnya telepon. Intinya, 'kamu pulang saja (ke Jakarta), karena aku ini lagi kalau mau cerita sama siapa' gitu," jelasnya.

Sutrimo diperkirakan kembali ke Jakarta sebelum 19 Juli 2026, meskipun tanggal pastinya belum dapat dipastikan karena sebagian riwayat percakapan di ponsel keluarga hilang. "Pokoknya sebelum tanggal 19, 18 atau 19, saya nggak pasti karena saya lihat WA-nya mulai 19," tambahnya.

Identitas Dua Orang yang Mengantar

Terkait dengan dua orang yang menemani Sutrimo dari Stasiun Purwokerto, Aan mengatakan bahwa pihak keluarga belum mendapatkan informasi yang jelas mengenai identitas mereka. "Bilangnya orang dari Cilacap. Entah orang dari Cilacap itu orang mau kerja di Jakarta bersamaan, kita enggak tahu," ujarnya. Keluarga juga tidak mengetahui jumlah pasti orang yang bekerja di rumah Febrie, tetapi Aan memperkirakan jumlahnya cukup banyak berdasarkan foto yang dikirim Sutrimo.

Dalam salah satu foto yang diterima pada 23 Juli, terlihat sejumlah sepeda motor di sekitar lokasi, yang diduga merupakan milik para pekerja. "Di foto yang dikirim itu ada motor-motor pegawainya juga. Jadi pasti banyak orang," kata Aan.

Komunikasi terakhir melalui WhatsApp menjadi petunjuk penting bagi keluarga untuk memahami aktivitas Sutrimo setelah kembali ke Jakarta. Dalam percakapan yang berlangsung dari 19 hingga 23 Juli 2026, Sutrimo tampak beraktivitas seperti biasa dan bahkan mengirimkan foto kepada keluarganya saat berada di sekitar rumah Febrie. "Yang dia tunjukkan sedang berada jaga rumah Bapak Febrie, yang masih ada bisa dipulihkan," jelas Aan.

Selama periode tersebut, tidak ditemukan percakapan yang menunjukkan Sutrimo mengalami masalah kesehatan. "Kalau dilihat dari postingan tanggal 19, happy-happy saja. Tidak ada keluhan sakit atau apa," ungkapnya. Sebelumnya, Sutrimo memang sempat mengeluhkan kakinya yang bengkak karena riwayat diabetes.

Keluarga kini mempertanyakan informasi mengenai penyebab kematian Sutrimo, dan berharap dapat terungkap jika ponsel Sutrimo berhasil dipulihkan dan diperiksa. "Karena kita juga tidak ada yang menyaksikan. Itu saja," tambah Aan.

Saat ini, pihak keluarga masih menunggu pemulihan data pada ponsel Sutrimo, karena riwayat komunikasi sebelum 19 Juli 2026 sudah tidak ada, sementara data yang tersisa hanya percakapan pada 19-23 Juli. "Ini makanya lagi dipulihkan oleh kepolisian," kata dia.

Kasus kematian Sutrimo yang ditemukan di depan klinik kecantikan Mordent di Jakarta Selatan masih menyisakan teka-teki. Keluarga awalnya tidak mencurigai apa pun saat menerima jenazah, namun seiring waktu, mereka mulai mempertanyakan kejanggalan yang ada, termasuk dokumen rumah sakit dan kondisi jenazah yang tidak kunjung dikembalikan. "Pertama memang pada saat mereka terima mayat, memang mayat sudah dikafani, sudah bersih, dan tidak ada yang mencurigakan," ujar Aan.

Namun, belakangan kecurigaan muncul, sehingga pihak keluarga melaporkan dugaan kematian yang tidak wajar ke polisi di Banyumas, yang kemudian diteruskan ke Polda Metro Jaya. Sebagai langkah penyelidikan, kepolisian berencana melakukan ekshumasi makam Sutrimo di Banyumas pada Rabu (12/8) mendatang. Ekshumasi merupakan proses penggalian kembali makam untuk memastikan kasus kematian yang dianggap janggal.

// Artikel Terkait