Sunday, 06 September 2026
Peristiwa

Erupsi Gunung Anak Krakatau Mencatatkan Intensitas Tertinggi Sepanjang Tahun 2026

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami erupsi dengan intensitas tertinggi sejak awal tahun 2026, yang berlangsung dari malam Jumat hingga Sabtu. Aktivitas ini menghasilkan suara dentuman yang t...

M
Maria Angelica
05 September 2026 22 pembaca
Foto: Dok.Magma Indonesia
Foto: Dok.Magma Indonesia

Gunung Anak Krakatau yang terletak di perairan Selat Sunda telah mencatatkan erupsi berkelanjutan dengan intensitas letusan tertinggi sepanjang tahun 2026. Erupsi ini dimulai pada malam hari Jumat, 4 September 2026, dan masih berlangsung hingga hari ini, Sabtu, 5 September 2026.

Menurut pengamat Gunung Api Anak Krakatau, Muhammad Dika Nurzaman, erupsi ini ditandai dengan pancaran lava yang mulai terlihat sejak pukul 23.07 WIB dan terus berlanjut. "Rangkaian letusan pada 4 hingga 5 September ini menjadi yang tertinggi secara intensitas sejak gunung tersebut berstatus siaga. Sejak tadi malam terjadi satu kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo maksimum 70 milimeter. Durasi yang tercatat mencapai 21.600 detik," jelas Dika.

Aktivitas Letusan dan Suara Dentuman

Secara keseluruhan, Gunung Anak Krakatau telah mengalami lebih dari 240 kali letusan sejak ditetapkan dalam status siaga pada 2 Juli 2026. Dika menegaskan bahwa letusan ini berasal dari kantong magma di dalam gunung tersebut dan tidak mempengaruhi aktivitas gunung api lainnya di Indonesia. Aktivitas letusan yang tinggi juga menyebabkan suara gemuruh dan dentuman yang dapat terdengar hingga ke daerah pesisir Banten dan Lampung. "Suara dentuman yang terdengar itu merupakan suara dari hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yang merambat ke udara, bukan dentuman akibat gempa bumi atau gerakan tanah," tambahnya.

Pemantauan dan Status Siaga

Pemantauan visual saat ini mengalami kendala. Pantauan terakhir pada pukul 01.00 WIB sempat merekam semburan lava, namun beberapa alat pemantauan di sekitar kawah diduga mengalami kerusakan akibat material erupsi. "Secara fisik sampai siang ini belum bisa kita pantau karena ada beberapa alat pemantauan, termasuk CCTV, yang kemungkinan mengalami kerusakan akibat erupsi," ungkap Dika.

Menanggapi tingginya intensitas erupsi, Dika memastikan bahwa status Gunung Anak Krakatau tetap pada Level III atau Siaga. Ia juga mengimbau masyarakat yang tinggal di pesisir untuk tidak panik, mengingat potensi ancaman gelombang pasang sangat kecil, mengingat ukuran tubuh gunung yang masih relatif kecil. "Untuk potensi tsunami sangat kecil, bahkan bisa dikatakan tidak ada. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak panik, dan tetap menjauh dari Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer," tegasnya.

// Artikel Terkait