Saturday, 27 June 2026
Hukum & Kriminal

Enam Anggota Ormas Ditangkap Usai Pengeroyokan yang Mengakibatkan Kematian di Sumut

Kepolisian menangkap enam anggota organisasi kemasyarakatan yang terlibat dalam pengeroyokan Jaka Malau, seorang pria berusia 24 tahun, di Pematangsiantar, Sumatera Utara. Ironisnya, Jaka merupakan ko...

S
Stephanie Marissa
24 June 2026 11 pembaca
Ilustrasi korban pengeroyokan maut. (iStock/aradaphotography)
Ilustrasi korban pengeroyokan maut. (iStock/aradaphotography)

Medan, CNN Indonesia -- Enam anggota organisasi kemasyarakatan (ormas) ditangkap oleh pihak kepolisian setelah terlibat dalam pengeroyokan yang mengakibatkan kematian Jaka Malau (24) di Taman Bunga, Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara. Polisi menyatakan bahwa Jaka Malau ternyata merupakan korban salah sasaran dari tindakan brutal para pelaku.

Kasat Reskrim Polres Pematangsiantar, AKP Sandi Riz Akbar, menjelaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada 28 Mei lalu. Setelah dianiaya, Jaka sempat mendapatkan perawatan medis di rumah sakit, namun sayangnya, ia meninggal dunia sehari setelahnya.

Motif Pengeroyokan

Dari hasil penyelidikan awal, polisi menemukan bahwa motif di balik pengeroyokan ini berkaitan dengan perselisihan harga pembuatan tato. "Motif dari kasus ini yakni adanya perselisihan harga tato antara HH dan MH selaku pembuat tato. HH merasa keberatan setelah mengetahui biaya pembuatan tato mencapai Rp600 ribu," ungkap AKP Sandi.

HH kemudian menceritakan masalah ini kepada temannya, RWMS. Dalam keadaan emosi, RWMS mengajak lima orang temannya untuk mendatangi MH di studio tato yang berlokasi di Taman Bunga. Setibanya di lokasi, mereka membawa MH ke dekat taman hewan dan meminta pengembalian uang yang telah dibayarkan oleh HH.

Namun, MH mengaku belum bisa mengembalikan uang tersebut dan meminta waktu. Terjadilah perdebatan sebelum MH dibawa kembali ke tempat kerjanya sebagai pembuat tato. "Sehingga terjadilah cekcok. Lalu MH meminta waktu untuk mengembalikan uang tersebut. Setelah itu MH dikembalikan lagi ke Taman Bunga tepatnya di stan pembuatan tato," jelas Sandi.

Kesalahpahaman yang Berujung Tragis

Ketika kembali ke lokasi, RWMS yang turun lebih dahulu dari mobil melihat Jaka Malau duduk di dekat stan tato. Dalam keadaan emosi, RWMS menuduh Jaka sebagai teman MH. "RWMS yang pertama kali keluar dari mobil melihat korban Jaka Malau ini duduk di dekat stan pembuatan tato. Tersangka RWMS dalam keadaan emosi menuduh korban ikut-ikutan karena merupakan teman MH," sebutnya.

Cekcok antara RWMS dan Jaka tidak dapat dihindari, yang kemudian berujung pada aksi saling pukul. Melihat keributan tersebut, lima orang teman RWMS datang dan bersama-sama melakukan pengeroyokan terhadap Jaka Malau. "Lalu terjadi cekcok dan pukul-pukulan. Tidak terima RWMS dipukul, lalu teman-teman RWMS datang dan langsung melakukan pengeroyokan terhadap Jaka Malau," ujar Sandi.

Setelah dianiaya, Jaka dibiarkan dalam keadaan kritis di pinggir jalan sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit, di mana ia tidak dapat diselamatkan. Jenazahnya kemudian diautopsi dengan persetujuan keluarganya.

Pihak kepolisian telah menetapkan enam orang sebagai tersangka dalam kasus pengeroyokan yang menyebabkan kematian tersebut. Semua tersangka kini telah ditahan untuk menjalani proses hukum. "Seluruh tersangka berjumlah 6 orang sudah ditahan. Keenam tersangka yakni FS (30), RP (24), RWMS (28), PGS (44), RS (52), dan SS (43). Para tersangka akan diproses hukum untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya," tegas Sandi.

// Artikel Terkait