Tuesday, 07 July 2026
Peristiwa

BPOM Serukan Penguatan Laboratorium Global untuk Hadapi Ancaman Mikroplastik

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menekankan pentingnya penguatan laboratorium berkualitas secara global untuk mengatasi berbagai tantangan kesehatan, termasuk mikroplastik dan obat ilegal.

A
Arya Satya Sasmita
06 July 2026 8 pembaca
Foto: ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
Foto: ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengungkapkan bahwa penguatan laboratorium yang saling terhubung secara global merupakan suatu kebutuhan mendesak. Hal ini diperlukan untuk menghadapi berbagai tantangan kesehatan modern, seperti ancaman mikroplastik, nanoplastik, obat-obatan ilegal, dan keamanan pangan.

Pentingnya Menangani Mikroplastik

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menyatakan bahwa mikroplastik dan nanoplastik kini menjadi masalah serius yang dampaknya tidak hanya terbatas pada lingkungan. Ia menjelaskan bahwa penggunaan plastik yang masif tanpa pengaturan yang memadai dapat berujung pada masalah kesehatan masyarakat.

“Masalahnya bagaimana bisa mikroplastik tersebut masuk ke sistem vaskular kita. Kita tidak tahu saat ini, tapi mungkin karena nanopartikel dari mikroplastik ini masuk ke dalam darah, kemudian tersangkut, mencederai sistem endothelial di sistem vaskular kita,” ungkap Taruna dalam acara The Laboratory Future: Sustainability in Innovation and Operations di Jakarta, Senin.

Taruna juga mengutip sebuah studi yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine, yang menemukan adanya hubungan antara mikroplastik dengan aterosklerosis, yaitu penyempitan atau pengerasan pembuluh darah arteri akibat penumpukan plak pada dinding pembuluh darah.

Risiko Kesehatan dan Inovasi Laboratorium

Menurut Taruna, temuan tersebut menunjukkan bahwa mikroplastik dapat memberikan dampak langsung terhadap kesehatan manusia. Ia menambahkan bahwa paparan mikroplastik berisiko memicu penyakit iskemik yang dapat berujung pada stroke. Tantangan ini menunjukkan pentingnya inovasi dan kualitas laboratorium yang baik.

Laboratorium juga perlu terhubung lintas negara dan antarbenua agar pengawasan, pengembangan sains, serta perlindungan publik dapat dilakukan dengan lebih cepat dan efektif. “Belum lagi soal obat-obatan, terutama partikel narkotik,” tambahnya.

Taruna menekankan bahwa Indonesia masih menghadapi banyak kasus obat-obatan ilegal. Untuk mengatasi masalah tersebut, diperlukan laboratorium yang mampu mengembangkan parameter keamanan obat dengan lebih akurat. “Bukan cuma di Indonesia. Di benua mana pun, kita butuh alat-alat spesifik, fasilitas spesifik, laboratorium yang spesifik untuk menguji banyak hal secara cepat,” jelasnya.

Dia menegaskan bahwa kemampuan laboratorium yang kuat sangat penting untuk melindungi publik dari berbagai ancaman kesehatan. Sebagai lembaga regulatori, BPOM berkomitmen untuk memastikan bahwa setiap produk yang dikonsumsi masyarakat aman, berkualitas, dan berkhasiat.

Taruna juga menyampaikan bahwa interkoneksi laboratorium secara global dapat meningkatkan keselamatan pasien di berbagai negara. Dengan jaringan laboratorium yang lebih kuat, kemampuan untuk mendeteksi dan menguji risiko kesehatan baru dapat dilakukan dengan lebih cepat. BPOM terus menjalin kerja sama dengan sejumlah mitra internasional, termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Asian Development Bank (ADB), untuk mengembangkan laboratorium di Indonesia agar lebih siap menghadapi tantangan kesehatan di masa mendatang.

// Artikel Terkait