Sunday, 06 September 2026
Peristiwa

Abu Vulkanik dari Anak Krakatau Mengganggu Aktivitas di Serang

Hujan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau mulai mempengaruhi kawasan pesisir Kabupaten Serang, Banten, pada Sabtu malam, mengakibatkan ketidaknyamanan bagi warga dan gangguan pada aktivita...

A
Arya Satya Sasmita
06 September 2026 8 pembaca
Foto: ANTARA/Ade Friadi
Foto: ANTARA/Ade Friadi

Hujan abu vulkanik yang berasal dari erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mulai dirasakan di pesisir Kabupaten Serang, Banten, pada malam hari Sabtu. Dampak dari kejadian ini membuat warga mengalami iritasi pada mata dan mengganggu proses belajar mengajar di sekolah-sekolah setempat.

Salah satu warga, Sanan (42), yang tinggal di Kampung Pasauran Satu, Desa Umbul Tanjung, Kecamatan Cinangka, menjelaskan bahwa abu vulkanik mulai terlihat menumpuk di sekitar permukiman sejak pukul 17.00 WIB. "Dari jam lima sore mulai banyak debu. Saya bawa motor di jalan mata pada sakit kalau tidak pakai helm. Ke badan juga menempel debunya, membuat tidak nyaman. Bahkan di depan rumah saya sudah banyak debu yang menempel di lantai," ungkapnya saat ditemui di Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Anak Krakatau.

Kekhawatiran Warga dan Pihak Sekolah

Sanan juga menyebutkan bahwa suara gemuruh dan getaran yang terus menerus sejak Jumat malam membuatnya merasa perlu untuk mengunjungi Pos Pemantau Gunung Api Anak Krakatau guna memastikan keamanan gunung tersebut.

Hal serupa juga dirasakan oleh Ajat Sudrajat, Kepala SDN Pasir Menteng, Kecamatan Cinangka. Ia mengunjungi pos pemantauan pada malam yang sama untuk mendapatkan informasi akurat mengenai kondisi gunung, yang nantinya akan disampaikan kepada siswa dan orang tua. Ajat mengakui bahwa sebaran debu vulkanik sangat mengganggu kenyamanan dan kesehatan saat beraktivitas di luar. "Di perjalanan, kalau keadaan tidak memakai masker itu sudah lumayan sakit ke tenggorokan, kemudian mata juga perih kalau tidak pakai kacamata. Walaupun kita tidak terlihat jelas di udara, tapi debu-debunya di pos pemantauan Krakatau ini kelihatan menumpuk," katanya.

Respon Masyarakat Terhadap Erupsi

Ajat menekankan pentingnya mendapatkan informasi langsung dari pos pemantauan, mengingat aktivitas erupsi telah menimbulkan kecemasan di masyarakat dan berdampak pada rendahnya kehadiran siswa di sekolah. Meskipun sebagian besar warga Pasauran menganggap getaran dan dentuman erupsi sebagai hal yang biasa, ada juga yang memilih untuk mengamankan diri ke daerah pegunungan. "Masyarakat itu masih aman-aman saja karena hal-hal ini sudah biasa dan alami di warga Pasauran. Tetapi memang ada beberapa warga yang berinisiatif mengamankan dirinya sendiri ke daerah pegunungan," jelasnya.

// Artikel Terkait