JAKARTA - Perkembangan teknologi telah memperluas akses masyarakat terhadap berbagai jenis investasi digital, termasuk aset kripto dan tokenisasi aset nyata. Namun, kemudahan ini harus diimbangi dengan pemahaman yang baik mengenai karakteristik aset, keamanan platform, dan evaluasi risiko sebelum menanamkan dana.
Aset digital kini tidak hanya terbatas pada mata uang kripto seperti Bitcoin dan Ethereum, tetapi juga mencakup tokenisasi aset dunia nyata atau real-world assets (RWA). Teknologi ini memungkinkan aset tertentu diwakili dalam bentuk token digital.
Pentingnya Memahami Karakter Aset Digital
Fini Charista, Product Marketing Supervisor Bittime, menyatakan bahwa setiap aset digital memiliki fungsi dan karakteristik yang berbeda. Investor diharuskan untuk memahami mekanisme kerja aset, likuiditas, volatilitas harga, serta aspek keamanan sebelum mengambil keputusan investasi.
Dia menekankan bahwa meskipun ada banyak pilihan investasi baru, tidak semua instrumen cocok untuk setiap individu. Investor perlu mengevaluasi aset berdasarkan pemahaman mereka tentang fungsi dan risikonya, bukan hanya mengikuti tren atau kenaikan harga. “Menurut saya, kita tidak bisa menilai suatu aset hanya dari kenaikan harganya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memilih aset digital, seperti fungsi aset tersebut, likuiditas dan volatilitas, serta aspek keamanan. Pastikan platform yang digunakan memenuhi ketentuan yang berlaku,” ujarnya dalam sebuah diskusi di Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka), Jakarta.
Fini juga mengingatkan agar masyarakat tidak mengambil keputusan investasi hanya berdasarkan rekomendasi orang lain atau ketakutan tertinggal tren. Dia menegaskan bahwa tidak ada aset yang dapat dijamin akan selalu mengalami kenaikan harga.
Risiko Investasi dan Pentingnya Literasi Keuangan
Dengan akses informasi dan instrumen investasi yang semakin mudah melalui platform digital, kemampuan untuk memilah informasi menjadi sangat penting. Tanpa pemahaman yang cukup, investor berisiko untuk membuat keputusan impulsif atau terjebak dalam tawaran investasi ilegal, terutama di kalangan muda, termasuk mahasiswa.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Uhamka, Tellys Corliana, menekankan bahwa mahasiswa harus bersikap kritis terhadap informasi dan tawaran investasi yang ada di ruang digital. “Teknologi digital itu ibarat senjata bermata dua, yakni bisa bermanfaat, tapi kalau salah, menjadi sumber kesesatan. Selama ini, investasi digital banyak yang menggiurkan, seolah-olah bisa menjadi cara untuk cepat kaya. Padahal, ini harus dikritisi,” jelasnya.
Geraldo Kovit, Market Expert & Chief Financial Analyst Dupoin Futures, menambahkan bahwa pemahaman mengenai peluang dan risiko adalah bekal penting bagi generasi muda di tengah perkembangan ekonomi digital. “Kemampuan menggunakan teknologi perlu diimbangi kecakapan menganalisis informasi, memahami risiko, dan mengambil keputusan keuangan secara bertanggung jawab,” ujarnya.
Sebuah survei yang dilakukan dalam acara tersebut menunjukkan bahwa 45 persen responden mahasiswa Uhamka belum memiliki instrumen investasi. Sebanyak 15 persen mengaku telah berinvestasi, sementara 40 persen lainnya berencana untuk memulai investasi. Di antara responden yang sudah berinvestasi, 50 persen memanfaatkan teknologi untuk mitigasi risiko.
Survei juga mencatat alasan mengapa mahasiswa belum terjun ke investasi atau trading digital. Sebanyak 60 persen responden mengaku belum mengetahui peluang yang ada, 35 persen terkendala modal, dan 5 persen merasa trading tidak halal. Temuan ini menunjukkan perlunya edukasi yang tidak hanya mengenalkan berbagai instrumen investasi, tetapi juga membekali mahasiswa dengan kemampuan untuk memeriksa legalitas penyedia layanan, memahami biaya, dan memperhitungkan kemungkinan kerugian.
Dhiraj Kelly Salwani, Chief Investor Relation Dupoin Futures, mengingatkan pentingnya menyiapkan dana aman sebelum berinvestasi. Pemilihan instrumen juga harus disesuaikan dengan tujuan keuangan dan kemampuan menanggung risiko. “Investor disarankan memeriksa legalitas produk atau broker, memahami karakter investasi, menghitung biaya, serta memastikan informasi yang digunakan dapat dipertanggungjawabkan. Intinya lindungi dulu modalmu, jangan langsung ingin cepat kaya,” ujarnya.
Odang Supriatna, President Director Smartin, menambahkan bahwa perkembangan industri keuangan membuka peluang karier di berbagai bidang. “Namun, untuk terlibat di dalamnya, seseorang tetap membutuhkan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang memadai,” katanya.
Pemanfaatan teknologi dalam investasi perlu sejalan dengan literasi keuangan. Kemampuan untuk memahami aset, memverifikasi informasi, memeriksa keamanan platform, dan mengukur risiko menjadi bekal penting agar masyarakat tidak hanya mengikuti tren investasi digital.