Thursday, 23 July 2026
Peristiwa

Sudirman Said Dorong Mahasiswa untuk Kembangkan Kepemimpinan Berdasarkan Nilai

Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said, mengajak mahasiswa untuk membangun kepemimpinan yang berlandaskan nilai dan karakter, bukan sekadar otoritas formal. Seruan ini disampaikan dalam Kongr...

D
Daniel Saputra
23 July 2026 6 pembaca
Foto: Dok Istimewa
Foto: Dok Istimewa

Rektor Universitas Harkat Negeri (UHN) Sudirman Said mengajak para aktivis mahasiswa untuk mengembangkan kepemimpinan yang bersifat intrinsik, yaitu kepemimpinan yang tidak bergantung pada otoritas formal, melainkan pada nilai dan karakter yang dibangun secara mandiri oleh individu dari waktu ke waktu. Ajakan ini disampaikan di hadapan ratusan delegasi pada Kongres Nasional Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) ke-34 yang berlangsung di Unika Indonesia St Paulus Ruteng, Flores, pada Selasa (21/7/2026).

Krisis Kepercayaan Terhadap Institusi Negara

Sudirman mengungkapkan bahwa krisis kepercayaan terhadap institusi negara menjadikan gagasan kepemimpinan yang tidak bergantung pada jabatan semakin relevan untuk dibahas. Dalam situasi di mana Indeks Persepsi Korupsi terus menurun dan lembaga penegak hukum saling terjebak dalam masalah di depan publik, ia menilai bahwa Indonesia tidak bisa sepenuhnya bergantung pada kepemimpinan yang hanya lahir dari kekuasaan semata.

Menyoroti Kenyataan Ekonomi dan Sosial

“Kita patut syukuri semua kemajuan yang telah kita capai sebagai bangsa. Tetapi harus kita sadari bahwa keadaan kita saat ini tidak sedang baik-baik saja,” ungkap Sudirman dalam pernyataannya. Ia memaparkan data yang menunjukkan bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi rata-rata mencapai 5 persen per tahun dalam satu dekade terakhir, peringkat Indeks Persepsi Korupsi justru merosot dari 88 ke 109. Ia juga mencatat bahwa satu persen orang terkaya menguasai lebih dari separuh ekonomi nasional, sementara kelompok miskin bertambah lebih dari 10 juta orang. Selain itu, terdapat sekitar 19 juta lulusan SMA yang tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan apapun.

Sudirman menambahkan bahwa gejolak di pasar keuangan juga menjadi bukti nyata. Bank Indonesia telah berulang kali menggunakan cadangan devisa untuk menahan pelemahan nilai tukar rupiah, namun hasilnya tetap menunjukkan salah satu periode terburuk dalam sejarah pasar modal domestik. “Negara boleh membungkam para intelektual, boleh menyingkirkan para aktivis, boleh mengendalikan partai-partai, boleh membuat parlemen itu lumpuh, boleh mencengkeram penegak hukum. Yang tidak bisa diatur adalah pasar,” ujarnya. “Pasar adalah pengontrol atau penyeimbang yang sangat kuat, dan ini buktinya bahwa akibat dari praktik korupsi, akibat dari tata kelola yang lemah, akibat dari indeks demokrasi yang menurun, inilah hasilnya,” tambahnya.

Di tengah kondisi yang kurang menggembirakan ini, Sudirman tetap optimis dan menemukan harapan dalam sejarah bangsa. Ia menegaskan bahwa setiap kemajuan besar Indonesia, mulai dari Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi 1945, hingga Reformasi, selalu didorong oleh generasi muda dan intelektual.

// Artikel Terkait