JAKARTA — Bagaimana rasanya menjadi mahasiswa doktoral asal Papua di Inggris, lalu bertemu orang asing yang justru tidak percaya ketika mendengar kalimat, “Saya orang Indonesia”?
Pengalaman tersebut dialami Steve Rick Elson Mara, Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Papua–United Kingdom (IMP-UK) periode 2026–2028 yang tengah menempuh pendidikan doktoral (PhD) bidang Peace Studies di University of Bradford, Inggris.
Dalam wawancara bersama Studio Tribunnews di Jakarta, Selasa (4/8/2026), Steve berbagi cerita mengenai perjalanan akademiknya, kehidupan sebagai diaspora Indonesia, hingga gagasannya tentang perdamaian dan masa depan Papua.
Di balik perjalanan tersebut, Steve membawa satu pesan penting: Papua tidak seharusnya terus-menerus dipandang hanya melalui kacamata konflik.
“Saya ingin mengubah perspektif itu. Papua bukan daerah konflik. Papua adalah daerah damai.”
Menempuh pendidikan di luar negeri memberikan pengalaman yang berbeda bagi Steve. Bukan hanya mengenai dunia akademik, tetapi juga tentang bagaimana Indonesia, khususnya Papua, dipersepsikan oleh masyarakat internasional.
Salah satu pengalaman yang membekas terjadi ketika Steve bertemu seorang pemuda asal Fiji. Saat memperkenalkan dirinya sebagai orang Indonesia, Steve justru menghadapi ketidakpercayaan.
Pengalaman itu memperlihatkan kepadanya bahwa masih terdapat kesenjangan informasi mengenai Indonesia di kalangan masyarakat kawasan Melanesia.
Menurut Steve, sebagian orang mengenal Indonesia dan Papua melalui informasi yang terbatas, bahkan cenderung negatif. Kondisi tersebut membuat komunikasi langsung antarmasyarakat menjadi penting agar gambaran tentang Indonesia tidak dibentuk hanya oleh satu perspektif.
Dari pengalaman itu pula muncul dorongan untuk membangun Melanesian Youth Diplomacy Forum, sebuah ruang dialog yang ditujukan untuk mempertemukan generasi muda di kawasan Melanesia.
Bagi Steve, diplomasi tidak hanya menjadi urusan pemerintah atau diplomat profesional.
Generasi muda, mahasiswa, dan diaspora juga dapat memainkan peran melalui apa yang sering disebut sebagai people-to-people diplomacy atau diplomasi antarmasyarakat.
Interaksi langsung dinilai dapat membuka ruang bagi pertukaran informasi dan pengalaman yang lebih luas.
Melalui Melanesian Youth Diplomacy Forum, Steve ingin mendorong generasi muda dari berbagai negara di kawasan Melanesia untuk berdialog secara terbuka.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperluas pemahaman mengenai Indonesia sekaligus mencegah munculnya persepsi yang dibangun dari informasi sepihak.
Pengalaman Steve menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia di luar negeri secara tidak langsung juga dapat menjadi representasi Indonesia dalam lingkungan internasional.
Perjalanan akademik Steve tidak jauh dari isu yang selama ini menjadi perhatian utamanya.
Sebagai kandidat PhD bidang Peace Studies di University of Bradford, ia memilih Papua sebagai fokus penelitian doktoralnya.
Pilihan tersebut bukan tanpa alasan.
Steve ingin melihat Papua dari perspektif pembangunan perdamaian serta mencari pendekatan yang dapat menghasilkan perdamaian berkelanjutan.
Penelitian tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai karya akademik, tetapi dapat melahirkan rekomendasi kebijakan yang relevan bagi pemerintah maupun pemangku kepentingan lainnya.
Baginya, pendekatan terhadap Papua perlu memberikan ruang lebih besar bagi pembangunan manusia, dialog, pendidikan, ekonomi, dan penguatan masyarakat.
Salah satu pesan utama yang disampaikan Steve adalah perlunya mengubah cara pandang terhadap Papua.
Selama bertahun-tahun, isu mengenai Papua kerap muncul dalam pemberitaan nasional maupun internasional dalam konteks konflik, kekerasan, politik, dan keamanan.
Steve ingin menghadirkan perspektif berbeda.
Menurutnya, Papua juga memiliki masyarakat yang menginginkan kehidupan damai, generasi muda yang ingin berkembang, potensi ekonomi yang besar, serta sumber daya manusia yang dapat memainkan peran penting bagi masa depan Indonesia.
Karena itu, narasi tentang Papua menurut Steve tidak semestinya berhenti pada persoalan konflik.
“Papua bukan daerah konflik. Papua adalah daerah damai,” menjadi gagasan yang ingin ia dorong melalui jalur akademik maupun diplomasi masyarakat.
Selain berbicara mengenai perdamaian, Steve menyoroti pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia Papua.
Pengalaman menempuh pendidikan di Inggris membuatnya melihat bahwa kesempatan belajar di luar negeri bukan sesuatu yang mustahil bagi generasi muda Papua.
Salah satu tantangan yang menurutnya perlu ditembus adalah persoalan mental dan keberanian untuk mencoba.
Anak muda Papua perlu didorong agar berani mengambil peluang pendidikan, membangun jejaring internasional, meningkatkan kemampuan akademik, serta membawa pengalaman tersebut kembali untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat.
Pendidikan pada akhirnya bukan sekadar mengejar gelar.
Pengalaman hidup di lingkungan internasional juga membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami berbagai perspektif, membangun jaringan, dan melihat persoalan Papua maupun Indonesia melalui sudut pandang yang lebih luas.
Steve juga menyinggung persoalan pembangunan dan ketahanan pangan.
Menurut pandangannya, pembangunan Papua perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas masyarakat lokal.
Infrastruktur memang memiliki peran penting, tetapi investasi terhadap manusia juga menjadi fondasi bagi pembangunan jangka panjang.
Pendidikan, kemampuan generasi muda, kesempatan ekonomi, ketahanan pangan, dan partisipasi masyarakat menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari upaya menciptakan Papua yang damai dan sejahtera.
Dengan demikian, pembangunan tidak semata-mata dinilai dari pembangunan fisik, melainkan juga dari seberapa jauh masyarakat memiliki kemampuan untuk menentukan dan membangun masa depannya.
Perjalanan Steve Rick Elson Mara dari Papua hingga menempuh studi doktoral Peace Studies di Inggris menggambarkan bagaimana pendidikan dapat bersinggungan langsung dengan diplomasi dan pembangunan perdamaian.
Pengalaman bertemu masyarakat internasional juga menunjukkan bahwa persepsi mengenai Indonesia dan Papua di luar negeri masih menjadi ruang yang perlu diisi dengan dialog, informasi, dan interaksi yang lebih luas.
Di tengah kompleksitas persoalan Papua, Steve memilih jalur pendidikan dan diplomasi masyarakat.
Melalui penelitian doktoral, organisasi mahasiswa, serta dialog dengan generasi muda Melanesia, ia ingin menawarkan perspektif bahwa masa depan Papua tidak harus selalu dibicarakan melalui bahasa konflik.
Bagi Steve, Papua juga perlu dibicarakan melalui pendidikan, pembangunan manusia, dialog, diplomasi, dan perdamaian.
Dan dari ruang akademik ribuan kilometer dari tanah kelahirannya, pesan yang ingin dibawanya tetap sederhana namun kuat:
Papua bukan sekadar persoalan yang harus diselesaikan. Papua adalah rumah yang masa depannya harus dibangun bersama.
Steve Rick Elson Mara: Dari Papua ke Inggris, Membawa Diplomasi Damai dan Wajah Indonesia ke Dunia
JAKARTA — Bagaimana rasanya menjadi mahasiswa doktoral asal Papua di Inggris, lalu bertemu orang asing yang justru tidak percaya ketika mendengar kalimat, “Saya orang Indonesia”?Pengalaman tersebut di...