Pengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PB SEMMI) untuk periode 2026–2029 berencana memperkuat kerja sama lintas organisasi mahasiswa dan kepemudaan guna meningkatkan peran gerakan mahasiswa. Kepengurusan baru ini juga menempatkan konsolidasi internal serta penguatan etika kepemimpinan sebagai prioritas utama.
Komitmen untuk Bersatu
Ketua Umum PB SEMMI, Achmad Donny, menegaskan bahwa perbedaan latar belakang dan pandangan antar lembaga mahasiswa seharusnya tidak menjadi penghalang untuk bekerja sama. Ia mengungkapkan bahwa organisasi mahasiswa memiliki tanggung jawab kolektif untuk berkontribusi bagi masa depan bangsa. “Kita boleh berbeda dalam cara pandang dan gerakan, tetapi kita memiliki tanggung jawab yang sama terhadap masa depan bangsa,” ujarnya pada acara pelantikan pengurus di Jakarta.
Pentingnya Konsolidasi Internal
Pelantikan pengurus PB SEMMI dilakukan oleh Presiden Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam, Hamdan Zoelva, dan dihadiri oleh berbagai organisasi mahasiswa dan kepemudaan, seperti GMNI, PII, PMKRI, KMHDI, HMI, LMND, Gemura, serta Pemuda Muslimin Indonesia DKI Jakarta. Kehadiran beragam organisasi ini diharapkan dapat membuka ruang komunikasi dan dialog untuk memperkuat hubungan antar gerakan mahasiswa.
PB SEMMI juga akan memprioritaskan konsolidasi internal setelah pelaksanaan kongres. Seluruh kandidat yang mengikuti kontestasi sebelumnya diberikan kesempatan untuk bergabung dalam kepengurusan periode ini. “Kita sudah melewati proses kongres dan hari ini waktunya kita menyatukan kembali seluruh kekuatan yang ada. Seluruh kandidat kita rangkul, karena setelah kompetisi selesai, tidak ada lagi kelompok-kelompok. Yang ada adalah satu PB SEMMI, satu gerakan, dan satu tanggung jawab untuk membawa organisasi ini lebih maju,” jelas Achmad.
Achmad menambahkan bahwa penyatuan berbagai unsur organisasi sangat penting agar kepengurusan baru dapat menjalankan agenda bersama tanpa terhambat oleh perbedaan pilihan selama kongres. Konsolidasi ini juga menjadi dasar untuk membangun hubungan yang lebih luas dengan organisasi mahasiswa dan kepemudaan lainnya.
Dalam menjalankan kepengurusan, Achmad menekankan pentingnya etika dan tanggung jawab organisasi. Ia mengingatkan agar seluruh pengurus menjaga integritas serta mengutamakan kepentingan organisasi dan masyarakat. “Jabatan dalam organisasi bukan sekadar posisi, tetapi amanah. Karena itu, kita harus menjaga sikap, menjaga marwah organisasi, dan memastikan setiap langkah yang kita ambil memberikan manfaat bagi umat dan bangsa,” tutupnya.