Thursday, 24 September 2026
Ekobis

Raksasa Teknologi hingga Saham Pariwisata Terperosok, Wall Street Melemah di Tengah Kekhawatiran Dampak AI

M
Miftahuda
24 September 2026 1 pembaca
Ilustrasi (Artificial Intelegent)
Ilustrasi (Artificial Intelegent)

Kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS kembali menekan pergerakan saham di Wall Street. Di saat bersamaan, para investor juga mencermati meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terhadap kinerja sejumlah perusahaan.

Pada penutupan perdagangan Rabu (23/9/2026), indeks S&P 500 melemah 0,75 persen ke posisi 7.706,05. Penurunan juga dialami indeks berbasis teknologi Nasdaq Composite yang merosot 1,13 persen ke level 26.936,04, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,68 persen hingga mencapai 51.511,59.

Tekanan pasar meluas ke sebagian besar sektor pada indeks S&P 500. Sebanyak sembilan dari 11 sektor berakhir di zona merah, yang dipimpin oleh sektor utilitas dengan penurunan 1,72 persen serta sektor layanan komunikasi yang melemah 1,49 persen. Volume perdagangan saham tercatat mencapai 17 miliar saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata 16,5 miliar saham dalam 20 sesi sebelumnya.

Saham-saham di sektor teknologi menjadi salah satu sumber tekanan utama bagi bursa. Saham Alphabet anjlok hingga 3,8 persen dan Amazon turun 2,2 persen. Sementara itu, indeks saham semikonduktor PHLX melemah 1,2 persen dan saham Nvidia ikut merosot sebesar 1,5 persen.

Tekanan yang relatif lebih besar terlihat pada saham-saham di sektor pariwisata yang turut terdampak oleh kekhawatiran terkait integrasi AI. Saham Expedia dan Airbnb masing-masing merosot lebih dari 7 persen.

Di sisi lain, saham Meta mencatatkan penguatan sebesar 1 persen dan tercatat telah menguat sekitar 12 persen sepanjang pekan ini. Saham perusahaan tersebut mendapat sentimen positif setelah asisten AI Muse mendapat sambutan baik dari pasar, yang dinilai dapat membuka peluang bagi perusahaan infrastruktur teknologi.

Sentimen pasar secara keseluruhan kian terbebani oleh kenaikan harga minyak yang melonjak hampir 4 persen serta lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury). Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak 2007, sedangkan imbal hasil Treasury tenor 2 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2024. Kondisi tersebut semakin meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar bahwa suku bunga acuan AS akan bertahan tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

// Artikel Terkait