Organisasi penelitian Climate Impact Lab (CIL) telah mengeluarkan prediksi bahwa Super El Nino, yang diperkirakan akan berlangsung mulai tahun ini, dapat menyebabkan 451 ribu kematian akibat paparan panas ekstrem di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, lebih dari 19 ribu kematian diperkirakan akan terjadi di Indonesia.
Berton SP Panjaitan, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mengungkapkan bahwa proyeksi tersebut tidak bisa dianggap sebagai kepastian. Meskipun demikian, BNPB menganggap prediksi ini sebagai peringatan dini yang penting.
Peringatan Dini untuk Pencegahan
Berton menegaskan bahwa BNPB melihat proyeksi dari Climate Impact Lab sebagai sinyal untuk memperkuat upaya pencegahan, bukan sebagai angka yang pasti mengenai jumlah korban jiwa akibat El Nino. Ia menjelaskan bahwa prediksi tersebut menunjukkan potensi 19.300 kematian di Indonesia akibat panas ekstrem, tanpa mempertimbangkan dampak lain seperti kekeringan dan kebakaran hutan.
Menurut Berton, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memperingatkan bahwa El Nino pada tahun 2026 berpotensi sangat kuat hingga awal tahun 2027. Oleh karena itu, BNPB bersama pemerintah daerah dan kementerian terkait telah memprioritaskan tindakan antisipatif.
Langkah Antisipatif BNPB
Langkah-langkah yang difokuskan oleh BNPB mencakup pengawasan di wilayah-wilayah yang rawan, operasi modifikasi cuaca, pemenuhan pasokan air, serta perlindungan khusus bagi kelompok masyarakat yang rentan. Sebelumnya, Climate Impact Lab juga memperkirakan bahwa selama sembilan bulan pertama dari fenomena El Nino yang kuat, yang berlangsung dari Juni 2026 hingga Februari 2027, akan ada 451 ribu kematian yang terkait dengan panas ekstrem.
Prediksi menunjukkan bahwa kematian akibat El Nino akan lebih banyak terjadi di negara-negara berkembang di belahan selatan dunia. Nigeria diprediksi akan mengalami angka kematian tertinggi dengan 31.400 kematian, diikuti oleh Indonesia dengan 19.300 kematian, Sudan dengan 17.500 kematian, India dengan 15.800 kematian, Brasil dengan 13.300 kematian, dan Republik Demokratik Kongo dengan 10 ribu kematian.
Michael Greenstone, pendiri Climate Impact Lab dan Profesor Kehormatan bidang Ekonomi di University of Chicago, menyatakan bahwa mereka telah lama mampu memprediksi dampak kenaikan suhu terhadap hasil panen, dan kini mereka dapat memperkirakan dampak terburuk dari kenaikan suhu, yaitu kematian. Ia menambahkan, "Hasilnya, kini kami dapat mengestimasi 451 ribu orang mungkin akan tewas dalam beberapa bulan ke depan karena El Nino."
Greenstone juga mengingatkan bahwa dampak dari kenaikan suhu dapat mempengaruhi siapa saja, termasuk orang lanjut usia, anak-anak, dan orang dewasa. Oleh karena itu, respons darurat dan upaya untuk meningkatkan ketahanan masyarakat harus diarahkan ke wilayah yang diperkirakan akan menghadapi dampak terbesar.