Monday, 24 August 2026
Peristiwa

Perubahan Kurikulum Pendidikan Tinggi Ditekankan oleh Jonan dan CEO Grab

Dunia pendidikan tinggi perlu segera beradaptasi dengan kebutuhan industri yang terus berubah, terutama dalam menghadapi perkembangan kecerdasan buatan. Hal ini disampaikan dalam acara CEO Talks 2026...

A
Arya Satya Sasmita
23 August 2026 17 pembaca
Foto: Erdy Nasrul/Republika
Foto: Erdy Nasrul/Republika

Dalam konteks pendidikan tinggi, perubahan pendekatan pembelajaran dianggap mendesak untuk memenuhi tuntutan industri yang berkembang pesat. Keterlibatan praktisi, penguatan keterampilan nonteknis, dan pengalaman langsung dari dosen di dunia usaha menjadi semakin penting, terutama dengan kemajuan kecerdasan buatan (AI) yang terus berlanjut. Hal ini terungkap dalam acara CEO Talks 2026: Shaping the Future of Business Education yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga di Tugu Kunstkring Paleis, Menteng, Jakarta.

Kesenjangan antara Pendidikan dan Dunia Kerja

Dalam acara tersebut, dua tokoh penting, Ignasius Jonan dan CEO Grab Indonesia, Neneng Goenadi, menyoroti adanya kesenjangan antara pendidikan yang diberikan oleh perguruan tinggi dan kompetensi yang dibutuhkan di dunia kerja. Jonan menekankan pentingnya meningkatkan keterlibatan praktisi dalam proses pendidikan. Ia berpendapat bahwa setidaknya sepertiga dari tenaga pengajar di perguruan tinggi, terutama di program pascasarjana, seharusnya berasal dari kalangan praktisi yang relevan dengan kebutuhan industri.

Menurut Jonan, praktisi dapat berperan sebagai dosen pengampu mata kuliah utama maupun asisten pengajar. Kehadiran mereka dianggap krusial agar mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga memahami tantangan nyata yang dihadapi dalam dunia usaha. Selain itu, Jonan juga menggarisbawahi pentingnya kesejahteraan tenaga kependidikan. Ia berpendapat bahwa kualitas pendidikan yang berkelanjutan tidak mungkin tercapai tanpa memperhatikan kesejahteraan para pengelola institusi pendidikan. "Sistem pendidikan yang unggul tidak dapat berjalan tanpa kesejahteraan pengelola yang layak. Jika penghasilan dan kompensasi tidak mendukung, kualitas yang ditargetkan mustahil tercapai," ungkapnya.

Transformasi Pendidikan di Era AI

Sementara itu, Neneng Goenadi menilai bahwa tantangan yang dihadapi pendidikan tinggi semakin kompleks seiring dengan meningkatnya penggunaan AI. Ia menjelaskan bahwa akses terhadap teori dan pengetahuan formal kini semakin mudah, memungkinkan mahasiswa untuk memanfaatkan teknologi berbasis AI untuk memperoleh informasi atau mempelajari konsep akademik dengan cepat. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu mengalihkan fokus pendidikan ke kemampuan yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.

"Transformasi ini sangat mendesak. Teori kini bisa dipelajari dari mana saja menggunakan AI, namun soft skills dan pengalaman praktis tidak dapat digantikan," kata Neneng. Ia menekankan bahwa kemampuan interpersonal, berpikir kritis, beradaptasi, berkomunikasi, serta menyelesaikan masalah nyata akan menjadi faktor pembeda penting bagi lulusan saat memasuki pasar kerja. Untuk itu, ia berpendapat bahwa program magang tidak hanya perlu diberikan kepada mahasiswa, tetapi juga kepada dosen agar mereka dapat memperoleh pengalaman langsung di perusahaan melalui skema faculty immersion.

"Selain program magang mahasiswa yang berkualitas, para dosen juga perlu terjun langsung menjadi bagian dari dinamika perusahaan agar memiliki pemikiran yang lebih terbuka terhadap kebutuhan nyata industri," tambah Neneng. Ia percaya bahwa pengalaman tersebut akan membantu dosen memahami bagaimana teknologi, pola kerja, kebutuhan kompetensi, dan model bisnis berubah dengan cepat.

// Artikel Terkait