Saturday, 27 June 2026
Peristiwa

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Mencapai 5,61 Persen, Apa Penyebabnya?

Di tengah tantangan ekonomi global, Indonesia berhasil mencatat pertumbuhan ekonomi yang mengesankan pada kuartal I 2026. Pertumbuhan ini menunjukkan ketahanan ekonomi yang kuat di berbagai sektor.

M
Maria Angelica
20 June 2026 17 pembaca
Foto: Republika/Prayogi
Foto: Republika/Prayogi

Di tengah ketidakpastian yang melanda perekonomian global, Indonesia berhasil mencatat pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dibandingkan banyak negara besar lainnya. Pada kuartal pertama tahun 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,61 persen secara tahunan, yang lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan negara-negara G20 dan ASEAN.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pencapaian ini mencerminkan ketahanan ekonomi Indonesia yang tetap terjaga meskipun ada berbagai tekanan eksternal yang masih mengancam perekonomian dunia. "Indonesia terus tampil menonjol dengan pertumbuhan PDB kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen yoy, mengungguli banyak negara G20 dan ASEAN. Di saat yang sama, kami mempertahankan stabilitas harga dengan inflasi Mei 2026 sebesar 3,08 persen," ungkap Purbaya saat memberikan kuliah umum di Nankai University, Tianjin, China, pada hari Sabtu.

Indikator Ekonomi yang Positif

Purbaya menambahkan bahwa kombinasi antara pertumbuhan yang kuat dan inflasi yang terkendali menjadi indikator bahwa fondasi ekonomi Indonesia tetap solid. Inflasi nasional per Mei 2026 tercatat sebesar 3,08 persen, yang masih berada dalam kisaran aman untuk stabilitas ekonomi.

Menurut Purbaya, kinerja ekonomi ini menunjukkan bahwa Indonesia memasuki tahun 2026 dengan pertumbuhan yang kuat, kebijakan ekonomi yang kredibel, serta ketahanan yang relatif baik terhadap gejolak global. Salah satu aspek penting yang menjadi perhatian adalah ketahanan energi nasional. Kementerian Keuangan mencatat bahwa Indonesia termasuk dalam kelompok negara dengan tingkat eksposur rendah terhadap gangguan energi global dan memiliki bantalan ekonomi yang kuat. Skor ketahanan energi Indonesia mencapai 77 persen, sedikit lebih tinggi dari China yang berada di level 76 persen.

Pengelolaan Fiskal yang Hati-hati

Purbaya menekankan bahwa kondisi ini didukung oleh pengelolaan fiskal yang hati-hati. Pemerintah menjaga defisit anggaran di bawah 3 persen dari produk domestik bruto (PDB), sehingga Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memiliki ruang yang cukup untuk meredam berbagai guncangan eksternal.

Berbagai indikator aktivitas ekonomi juga menunjukkan tren positif. Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) untuk sektor manufaktur berada pada level ekspansif 50,0, pertumbuhan likuiditas perekonomian (M0) mencapai 14,8 persen secara tahunan, dan kredit perbankan tumbuh sebesar 11,5 persen. Kinerja sektor eksternal tetap kuat, dengan Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut, yang merupakan salah satu rekor terpanjang dalam sejarah perdagangan nasional.

Cadangan devisa Indonesia hingga Mei 2026 mencapai 144,9 miliar dolar AS, setara dengan 5,6 bulan impor, dan angka ini dianggap memadai untuk mendukung stabilitas nilai tukar serta memenuhi kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah. Pertumbuhan ekonomi yang kuat juga mulai terlihat dalam sektor ketenagakerjaan, di mana sebanyak 1,9 juta lapangan kerja baru tercipta, sehingga tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,68 persen pada tahun 2026.

// Artikel Terkait